“Apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat, saya ingat; dan apa yang saya lakukan saya paham” (Confusius)

Jumat, 14 Juni 2013

Model Pembelajaran MID

Ausubel (dalam Pramudiani, 2007: 19) menyatakan: “Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang”. Untuk membuat matematika menjadi bermakna dan bermanfaat bagi siswa, maka diperlukan sebuah landasan untuk membangun kembali semua aspek pembelajaran matematika, seperti: bahan-bahan kurikulum, lingkungan atau tempat pembelajaran, tanggung jawab guru, dan metode untuk menilai pemahaman matematika. Pernyataan tersebut di ungkapkan oleh Posamentier dan Stepelman (dalam Pramudiani, 2007: 19).

Selain dari hal yang disebutkan di atas, upaya untuk membuat pembelajaran matematika menjadi bermakna adalah dengan memberikan kesempatan kepada masing-masing siswa untuk membuat bahan ajar dan mengonstruksi soal-soal sendiri, sehingga diharapkan mereka dapat belajar dari pengalaman dan dapat mengingat materi yang dipelajari dalam waktu yang sangat panjang.
Sesuatu dikatakan bermakna jika berada pada tempatnya. Hamalik (dalam Pramudiani, 1997: 20) menyatakan,
Keseluruhan memberikan makna kepada bagian-bagian, bagian-bagian terjadi dalam suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam rangka keseluruhan tersebut. Ini berarti keseluruhan yang memberikan makna terhadap suatu bagian, misalnya sebuah ban mobil hanya bermakna jika menjadi bagian dari mobil, yakni sebagai roda, sebuah papan tulis hanya bermakna jika berada dalam kelas, sebatang kayu hanya bermakna sebagai sebagai tiang bila menjadi salah satu bagian pada sebuah rumah.

Dengan kata lain pembelajaran matematika akan bermakna jika menjadi bagian dari kebutuhan siswa. Sehingga, jika pembelajaran matematika telah bermakna di mata siswa, maka diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuan komunikasi matematikanya.
Madjid (dalam Pramudiani, 2007: 21) mengemukakan bahwa model pembelajaran bermakna adalah pola (pattern) atau kerangka kerja (frame work) yang dibangun secara konseptual, memiliki karakteristik khusus, dan berpijak pada psikologikognitif-konstruktif untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan efektif. Untuk selanjutnya model pembelajaran bermakna yang dikembangkan oleh Madjid (dalam Pramudiani, 2007: 21) tersebut dinamakan The Meaningfull Instructional Design Model (The MID-Model) yang memiliki beberapa fase, hasil dari adaptasi dengan Model 4Mat system pada pembelajaran bahasa. Desain The MID-Model initerdiri atas beberapa komponen, yaitu: (1) tujuan, (2) materi / bahan ajar, (3) sumber belajar, dan (4) prosedur, yaitu: “(a) lead individu (b) Reconstruction, dan (c)Production” serta (5) Evaluasi. Secara skematik, prosedur dapat digambarkan sebagai berikut.

Desain The-MID Model
Model ini dipilih menjadi alternatif pembelajaran matematika agar pembelajaran matematika menjadi lebih menarik dan penuh makna sehingga siswa dapat merasakan manfaat mempelajari matematika dan akan lebih mudah menguasai konsep-konsep matematika karena dikaitkan dengan struktur kognitif siswa itu sendiri.
Adapun penjelasan mengenai prosedur di atas diadaptasi dari Madjid (dalam Pramudiani, 2007: 22), sebagai berikut.
a. Lead In
Secara umum konsep Lead In sama dengan Concrete Experience dalam arti keduanya mencoba mengaitkan skemata siswa pada awal pembelajaran dengan konsep-konsep, fakta, dan atau informasi yang akan dipelajari. Kegiatan itu dilakukan guru melalui: (1) penciptaan situasi dalam bentuk kegiatan yang terkait dengan pengalaman siap siswa; (2) pertanyaan atau tugas-tugas agar siswa merefleksi dan menganalisis pengalaman-pengalaman masa tertentu masa lalu, dan; (3) pertanyaan perihal konsep-konsep, ide dan informasi tertentu walaupun hal-hal tersebut belum diketahui oleh siswa.

b. Reconstruction
Reconstruction adalah sebuah fase yang di dalamnya guru memfasilitasi dan memediasi pengalaman belajar yang relevan, misalnya dengan menyajikan input berupa konsep atau informasi melalui kegiatan menyimak dan membaca teks untuk dielaborasi, didiskusikan, dan kemudian disimpulkan oleh siswa. Kegiatan dilakukan melalui pemberian pertanyaan atau tugas-tugas yang mengarahkan siswa mencari, menemukan konsep atau fakta (observation and reflection), kemudian membangun hipotesis sementara (hypothesizing), (atau formation of abstract concept) tentang konsep atau informasi tertentu, dan menarik kesimpulan. Melalui refleksi/ review terdapat ruang bagi siswa menyadari perolehan baru dibandingkan dengan pengetahuan sebelum pembelajaran. Dalam fase ini belajar tidak hanya diarahkan pada pengembanganmetacognitive strategy. Hal itu dimungkinkan karena strategi metakognitif sangat mungkin muncul dari pengalaman siswa mengerjakan tugas-tugas yang dimediasi guru dalam berbagai cara.

c. Production
Production adalah fase terakhir dari model yang dikembangkan. Kontrol kegiatan lebih bertumpu pada siswa untuk mengekspresikan diri sendiri melalui tugas-tugas komunikatif yang bertujuan, jelas, dan terarah. Pada fase ini terdapat mediasi guru yang lebih terstruktur pada model yang dikembangkan.

Yang menjadi ciri model pembelajaran bermakna (The-MID Model), yaitu: 
(1) menggunakan pengalaman dan pengetahuan awal siswa untuk menerima informasi, memproses, dan menyimpan informasi sehingga untuk dipanggil kembali (retrieval) bilamana dibutuhkan, dan 
(2) mempertimbangkan materi, kompleksitas tugas-tugas yang berhubungan dengan matematika yang melekat pada kebutuhan, minat, dan perkembangan kognitif siswa. 
Dalam bentuk ”draft awal” implementasi dikemukakan sebagai berikut.
a. Draw on experience and knowledge- guru melibatkan siswa dalam kegiatan yang memanfaatkan pengalaman nyata dan pengetahuan yang terkait dengan pengalaman dan pengetahuan baru yang diperoleh pada kegiatan inti (fase input).
b. Input Stage- penyajian input baru melalui aktivitas yang berfokus pada siswa, eksplorasi dan diskusi dengan tugas-tugas terbimbing menyimak, membaca pemahaman melalui fasilitas dan mediasi guru.
c. Reinforcement Stage- siswa mengerjakan tugas yang bersifat replikasi relative berkenaan dengan tema dan kompleksitas tugas dari tugas sebelumnya pada faseinput; dan
d. Application Stage- siswa menerapkan pengetahuan, informasi, dan atau keterampilan baru dalam memecahkan persoalan-persoalan pedagogik atau autentik melalui tugas-tugas berbicara dan menulis dalam kontrol siswa dan guru.


Desain The-MID model ini secara keseluruhan dapat digambarkan sebagai berikut:

The-MID Model

Desain
1. Tujuan Pembelajaran
· Peningkatan kemampuan siswa dalam komunikasi matematik, aktivitas serta sikap positif siswa terhadap pembelajaran matematika.
2. Materi Pembelajaran
· Terkait dengan kehidupan nyata dan bermakna bagi siswa.
3. Sumber/ Media Belajar
· Buku, lingkungan sosial siswa, dan multimedia (macromedia flash).
4. Prosedur Pembelajaran
· Langkah-langkah pembelajaran terdiri dari:
a. Fase Lade Individu
Merefleksi pengalaman masa lalu sebagai bahan asosiasi.
b. Fase Reconstruction
Menerima input informasi dan konsep matematika.
Mengembangkan pemahaman baru melalui proses asimilasi dan akomodasi.
c. Fase Production
Menguji coba informasi dan konsep matematika ke dalam kegiatan komunikatif.
5. Evaluasi
Evaluasi kemampuan komunikasi matematik, aktivitas, dan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika.

Implementasi
1. Tahap Draw on Experience and Knowledge
Mengemukakan pengalaman dan pengetahuan siap sebagai bahan asosiasi.
2. Tahap Input
· Menerima input informasi dan konsep-konsep matematika.
· Melakukan eksplorasi melalui tugas penyelesaian masalah matematika.
3. Tahap Generalization and Review
· Mengembangkan pemahaman baru melalui proses asimilasi dan akomodasi.
· Mereview pengetahuan sebelumnya melalui mediasi guru
4. Tahap Application
Menerapkan informasi dan konsep-konsep matematika yang baru diperoleh ke dalam kegiatan komunikatif, yaitu berdiskusi, presentasi dan masing-masing kelompok saling menanggapi permasalahan yang sedang dipelajari.

Evaluasi
1. Tujuan Evaluasi
· Mengukur kemampuan komunikasi matematik, aktivitas dan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika.
· Sebagai dasar perbaikan efektivitas pembelajaran.
2. Sasaran Evaluasi
· kemampuan komunikasi matematik, aktivitas dan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika.
3. Prosedur Evaluasi
· Evaluasi prosaes dilakukan ketika berlangsung pembelajaran.
· Evaluasi hasil belajar dilakukan pada akhir sebuah segmen pembelajaran.
4. Alat/ Teknik Evaluasi
· Format penilaian proses dan tes hasil belajar.
· Penilaian dilakukan secara holistic.

Adaptasi dari Madjid (dalam Pramudiani, 2007: 26)

Dari uraian beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi matematik erat kaitannya dengan pengembangan model pembelajaran bermakna. Dengan mengemas pembelajaran menjadi penuh makna, maka akan melatih struktur kognitif siswa, sehingga kemampuan komunikasi matematik pun dapat terbentuk. Di samping itu, pembelajaran bermakna tidak hanya dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematik saja, tetapi juga dapat melatih kemampuan komunikasi siswa itu sendiri, baik komunikasi antar sisw, guru, maupun komunikasi dengan lingkungannya.

Tidak ada komentar: