“Apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat, saya ingat; dan apa yang saya lakukan saya paham” (Confusius)
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Desember 2012

Dana Pendidikan 20% hanya utk penyelenggaraan kegiatan

JOGJA—Alokasi dana 20% dari APBN untuk dunia pendidikan, mayoritas habis untuk penyelenggaraan kegiataan. Bukan menghasilkan pendidikan berkualitas.

Kurikulum pendidikan di Indonesia, dinilai pengamat pendidikan, Alissa Wahid, memiliki konsep memadai untuk perkembangan generasi muda. Hanya saja proses penyampaikan kedalam masyarakat tidak sampai.
Menanggapi perubahan kurikulum 2013 ini, putri dari Presiden RI ke-4, Gus Dur ini menilai paradigma kurikulum 2013 perlu disosialisasikan dengan baik, sampai pada praktisi kalangan bawah. Jangan sampai pada akhirnya siswa tidak mendapat pengetahuan umum atau pengembangan ketrampilan.

“Dari dulu juga gitu. Uang APBN sebesar 20 persen untuk pendidikan habis untuk penyelenggaraan, tapi hasil pendidikan tidak terlihat. Padahal kurikulum kita yang dulu tidak buruk-buruk aman,” jelasnya saat ditemui di Jogja, Selasa (11/12/2012).

Alasan pemerintah memadatkan mata pelajaran (mapel) untuk mengurangi beban siswa disebutnya merupakan hal yang masuk akal. Hanya, pengurangan beban mapel harus dilakukan secara hati-hati dan dilakukan secara mendasar.

Dari sisi guru, ia menyampaikan pelatihan maupun buku panduan yang diberikan pemerintah tidak cukup. Pasalnya, guru sudah terlalu berat menanggung aneka beban tugas. Adapun pendidikan karakter seperti yang dibicarakan seperti saat ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sebaliknya nilai-nilai tersebut telah ditanamkan walau tidak secara eksplisit dikemukakan.

“Belajar jujur dan berani. Dikelas siswa dididik untuk berani menyampaikan apa yang dirasakan. Tapi mingkin guru tidak memberitahukan secara lugas jika apa yang dilakukan adalah keberanian dan kejujuran,” ungkapnya.

Menurut dia seharusnya hal tersebut yang ditekankan. Siswa benar-benar dilatih mengetahui dan memahami aneka nilai-nilai yang ada. Bukan sekedar memberitahukan kepada siswa untuk bersikap berani atau jujur.

Kepala SD Tumbuh 1, Wresti Wrediningsih menuturkan kurikulum 2013 bukanlah konsep pendidikan yang baru. Bagi sekolah ini, pembelajaran integratif dan creative learning sudah diberlakukan sejak awal.

“Kalau terlalu lama akan membebani siswa. Apalagi tidak seluruh kebutuhan siswa bisa dipenuhi sekolah. Misal minat dibidang olahraga. Untuk mampu fokus, perlu ada sanggar yang kuat dibidang olahraga tertentu dan lainnya,” jelas dia.

Selasa, 11 Desember 2012

Uji Publik Kurikulum 2013 secara Online


Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan bagian dari strategi meningkatkan capaian pendidikan. Disamping kurikulum, terdapat sejumlah faktor diantaranya: lama siswa bersekolah; lama siswa tinggal di sekolah; pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi; buku pegangan atau buku babon; dan peranan guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan.
Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan Pasal 35: kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Hal ini sejalan pula dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.
Sejumlah hal yang menjadi alasan pengembangan Kurikulum 2013 adalah (a) Perubahan proses pembelajaran [dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu] dan proses penilaian [dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output] memerlukan penambahan jam pelajaran; (b) Kecenderungan akhir-akhir ini banyak negara menambah jam pelajaran [KIPP dan MELT di AS, Korea Selatan]; (c) Perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat, dan (d) Walaupun pembelajaran di Finlandia relatif singkat, tetapi didukung dengan pembelajaran tutorial
Sementara itu, Kurikulum 2006 memuat sejumlah permasalahan diantaranya: (1) Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; (2) Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan; (3) Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum; (4) Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global; (5) Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru; (6) Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala; dan (7) Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.
Tiga faktor lainnya juga menjadi alasan Pengembangan Kurikulum 2013 adalah, pertama, tantangan masa depan diantaranya meliputi arus globalisasi, masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, dan ekonomi berbasis pengetahuan.
Kedua, kompetensi masa depan yang antaranya meliputi kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yang efektif, dan kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda.
Ketiga, fenomena sosial yang mengemuka seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam berbagai jenis ujian, dan gejolak sosial (social unrest). Yang keempat adalah persepsi publik yang menilai pendidikan selama ini terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, beban siswa yang terlalu berat, dan kurang bermuatan karakter.
Selanjutnya, seperti yang akan Anda temukan nanti, berbagai aspek dalam Pengembangan Kurikulum 2013 dapat Anda beri tanggapan melalui laman http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id ini. Anda dapat menggunakan kesempatan baik ini untuk memberi masukan, kritik, dan saran hingga tanggal 24 Desember 2012.
Untuk memaksimalkan uji publik serta agar setiap tanggapan dapat kami rekam dengan baik guna pengolahan lebih lanjut, pelaksanaan uji publik ini dilaksanakan dengan mekanisme sebagai berikut:
  1. Anda diminta mengunduh rancangan Kurikulum 2013 yang tersedia dalam bentuk PDF pada lamanhttp://kurikulum2013.kemdikbud.go.id ini (klik disini untuk mengunduh).
  2. Dalam setiap halaman rancangan Kurikulum 2013 tersebut, terdapat ruang untuk Anda memberi tanggapan.
  3. Bilamana Anda hendak memasukkan tanggapan melalui laman http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id, kami minta Anda terlebih dahulu mengisi identitas diri dalam lembar isian yang tersedia.
Jika ada hal-hal yang ingin disampaikan lebih lanjut bisa melalui email: ujipublik.kurikulum@kemdikbud.go.id
Atas partisipasi Anda dalam Pengembangan Kurikulum 2013 kami sampaikan terima kasih. Untuk melanjutkan klik disini.


Salam,
Pusat Kurikulum dan Perbukuan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
sumber : http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id

Sabtu, 08 Desember 2012

Kurikulum 2013 : Pendidikan Agama ditambah untuk perkuat karakter anak


JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan agama, terutama di jenjang SD dan SMP pada kurikulum 2013 bakal ditambah. Penambahan jam pelajaran agama ini sebagai upaya untuk memperkuat pendidikan karakter siswa di sekolah.
Yanti Sriyulianti, praktisi pendidikan dari Keluarga Peduli Pendidikan (Kerlip), Rabu (5/12/2012), di Jakarta, mengatakan, pada pemikiran tentang perlunya perubahan kurikulum 2013, permasalahan soal lemahnya karakter generasi muda bangsa yang dibentuk lewat pendidikan di sekolah, menjadi salah satu sasaran penting yang harus tercapai pada pendidikan di sekolah ke depannya.
Menurut Yanti, pendidikan agama yang tidak sekadar teori atau pengetahuan, diyakini mampu membekali siswa untuk menjadi insan berakhlak mulia.
Pada kurikulum saat ini, ungkap Yanti, pendidikan agama dijalankan di kelas empat dan enam SD selama tiga jam per minggu. Pada kurikulum 2013, ada usulan  penambahan jam pelajaran agama yakni mulai kelas satu hingga kelas enam selama empat jam per minggu, atau penambahan dikelas rendah.
Di jenjang SMP, penambahan jam mata pelajaran pendidikan agama dari dua jam menjadi tiga jam. Adapun di jenjang pendidikan menengah tetap dua jam per minggu.
Yanti mengungkapkan, pada uji publik Pengembangan Kurikulum 2013 di Jakarta, persoalan pendidikan agama sempat disorot. Ada perbedaan pendapat di antara peserta uji publik yang tetap menginginkan pendidikan agama tidak usah ditambah.
Di lain pihak, lanjut Yanti, ada kelompok yang justru menilai penambahan jam mata pelajaran pendidikan agama dalam kurikulum 2013, dirasakan masih kurang untuk mendukung pendidikan karakter yang semakin kuat di sekolah.  
Yanti mengatakan, pendidikan agama, terutama untuk sekolah umum, seharusnya lebih banyak ditekankan pada praktek nilai-nilai universal. "Pendidikan agama lebih baik menjadi tanggung jawab orangtua atau keluarga, khususnya untuk yang bukan sekolah keagamaan," ujar Yanti.
Menurut Yanti, pendidikan agama di sekolah jangan difokuskan pada perbedaan agama satu dengan yang lain. Justru yang lebih penting yakni ditekankan, pada nilai-nilai universal agama yang cinta kebenaran, keadilan sosial, kesetaraan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, tanggung jawab, bahkan saat tidak ada orang lain melihat.
HAR Tilaar, Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta, menambahkan, misi dalam perubahan kurikulum harus mengutamakan kepentingan terbaik anak. Selain itu, pendidikan ditujukan untuk memperkuat persatuan bangsa, dengan menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
Indonesia sebagai negara multikultural, kata Tilaar, harus mampu membekali setiap warga negara dengan kemampuan untuk hidup dalam perbedaan dengan memperkuat toleransi. Dalam perkembangan globalisasi, dunia ini tidak semata menuju persaingan, tetapi tiap orang dan bangsa harus mampu berkolaborasi dengan siapa pun.
Secara terpisah, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk organisasi PBB Bidang Pendidikan, Sains, dan Budaya (UNESCO), Arief Rachman,  mengatakan, siswa harus dididik hidup bersama dalam damai. Sebab, konflik yang timbul di masyarakat dapat bermula dari adanya perbedaan suku, budaya, dan agama, yang memang menjadi keseharian masyarakat Indonesia.
"Pendidikan untuk hidup bersama dan damai merupakan salah satu agenda penting UNESCO. Untuk mengembangkan konsep ini, perlu disipakan dengan baik di dalam materi pelajaran yang ada di sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, maupun para gurunya," kata Arief.
Menurut Arief, pendidikan dengan perubahan kurikulum baru tetap intinya bagaimana menjadikan warga negara yang baik, termasuk hidup dalam damai meskipun ada perbedaan. Isu-isu keberagaman ini perlu terus dibangun, utamanya dengan menyiapkan guru yang mampu mengkomunikasikannya dengan baik.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, meyakinkan, perubahan kurikulum ini sebagai kebutuhan untuk menyiapkan generasi muda bangsa yang mampu membawa bangsa menjadi bangsa yang cerdas dan bermartabat.
"Perbaikan pendidikan nasional yang selama ini dikeluhkan mengabaikan pendidikan nilai atau karakter, diakomodasi dengan perubahan-perubahan dalam kompetensi yang mesti dimiliki siswa," kata Nuh.
*** tapi tidak untuk ditakut-takuti khan Pak Menteri ? alih-alih ilmu agama tapi malah jadi Fanatisme yang kebablasan****

Kamis, 06 Desember 2012

Penyederhanaan Nominal Rupiah


Penyederhanaan itu sebatas memangkas nominal rupiah, tanpa memotong nilainya.

VIVAnews- Wacana mengenai penyederhanaan nilai tukar (redenominasi) kembali mengemuka pada saat peringatan hari Oeang Republik Indonesia (ORI). Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan pihaknya melakukan harmonisasi dengan Bank Indonesia terkait rancangan undang undang terkait hal itu. 


Uang kertas rupiah.Menurutnya seiring dengan peningkatan ekonomi Indonesia saat ini, penyederhanaan tersebut dinilai perlu dilakukan. "Urgensinya sebagai negara maju kami memerlukan itu," ujar Menteri Keuangan, Agus Martowardojo, seusai peringatan hari Oang RI, Selasa 30 Oktober 2012.


Agus menekankan yang terpenting dari wacana itu adalah pemahaman yang jelas di masyarakat terkait kebijakan tersebut. Dia menegaskan penyederhanaan itu hanya sebatas memangkas nominal rupiah, tanpa memotong nilai mata uang kebanggaan Indonesia tersebut.


Untuk itu,  dalam proses perumusan rancangan undang-undang tersebut, dibutuhkan sosialisasi yang jelas pada masyarakat. Masa transisi yang dibutuhkan diharapkan tidak terlalu lama dan dampaknya terhadap perekonomian dapat diredam.


"Kami harus ingat, Indonesia itu luas dan mata uang rupiah digunakan di seluruh wilayah, jadi perlu sosialisasi," tandasnya.


Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro, mengatakan, dibutuhkan paling lama tiga tahun masa transisi untuk penerapan kebijakan penyederhanaan mata uang tersebut.


"Jadi, ada masa di mana kedua uangnya aktif. Ada uang lama dan uang baru. Yang penting, pengertian dari pemakai bahwa uang yang ada itu sama nilainya," tambahnya.


Bambang menjelaskan, pada masa sosialisasi dan transisi tersebut, masyarakat tidak hanya diinformasikan secara lisan, tetapi diiringi oleh praktik di lapangan. "Misalnya mulai penerapan pada transaksi perdagangan," ujarnya.


Melalui upaya itu, dampaknya dalam memicu inflasi dapat diredam. "Itu yang bisa memicu inflasi. Nantinya masa transisi itu diperlukan untuk masyarakat agar belajar," tuturnya.


Konsekuensi lain, menurut Bambang, dengan penerapan kebijakan itu, pemerintah harus mengeluarkan mata uang baru yang lebih kecil besarannya. Seperti uang receh yang selama ini sudah tidak diproduksi pemerintah. "Nantinya uang logam akan banyak muncul lagi, untuk satuan yang lebih kecil," ungkapnya.
Uang Kertas yg Berlaku saat ini


Rencana ini didorong untuk masuk ke Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2013. Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan, Kiagus Ahmad Badaruddin, mengungkapkan, kebijakan ini merupakan salah satu fokus pemerintah.


Kiagus menjelaskan, saat ini, surat pengajuan rancangan undang-undang (RUU) terkait redenominasi itu sudah diajukan ke Kementerian Hukum dan HAM. Selanjutnya, akan diproses pada Badan Pembinaan Hukum Nasional di kementerian tersebut, lalu diusulkan ke Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat.


"Nanti, baru ditetapkan mana-mana yang masuk Prolegnas. Setelah itu, baru diumumkan yang masuk Prolegnas apa-apa saja," ungkapnya.

Industri Keuangan Mendukung



Ketua Umum Persatuan Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono menyambut baik rencana penyederhanaan atau redenominasi yang akan masuk ke Prolegnas tahun 2013 mendatang. Hal itu membawa manfaat karena masyarakat akan lebih mudah bertransaksi karena angka nol berkurang tiga. 


"Di struk transaksi belanja juga lebih simpel, banyak positifnya," kata Sigit di acara Kongres Perbanas, Jakarta, Rabu 31 Oktober 2012.


Bankir yang lain, yaitu Wakil Direktur Utama Bank Permata Herwidyatmo juga mengamini pendapat Sigit. Menurutnya penyederhanaan itu akan membuat administrasi keuangan lebih efisien. Mantan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) itu menyarankan agar sosialisasi kepada masyarakat harus dilakukan secara menyeluruh. Mengingat hal ini menyangkut kepentingan banyak pihak.


Menurutnya langkah penyederhanaan rupiah ini memiliki dampak psikologis tidak mudah, sehingga harus dibicarakan dengan banyak pihak. "Bagaimana langkah demi langkahnya atau step by step," tambahnya.


Masalah sosialisasi inilah yang menjadi perhatian utama dari semua kalangan. Sigit mencotohkan jika sosialisasi bagus, Indonesia bisa meniru Turki yang sukses melakukan redenominasi. Terutama sosialisasi bukan berarti memotong nilai rupiah.


Ekonom Center for Information and Development Studies (CIDES) sekaligus Kepala Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI) Umar Juoro menilai pemerintah kurang sosialisasi terkait rencana penyederhanaan mata uang atau redenominasi.


"Soalisasinya masih kurang, kalau manfaat semua setuju, tapi khawatir dampaknya akan terjadi seperti kenaikan harga," ujarnya. 


Umar mengaku hingga saat ini masih banyak masyarakat dan para pemangku kepentingan yang belum mengerti tentang redenominasi. Untuk itu perlu diperhatikan aspek politik dan sosialnya. 


Hal senada juga diungkapkan oleh pengamat perbankan Aviliani. Penting untuk membedakan redenominasi dengan pemotongan nilai mata uang atau sanering yang pernah dilakukan.


Ide Lama


Masalah redenominasi merupakan wacana lama yang tak kunjung dibahas serius. Adalah Gubernur BI Darmin Nasution yang pertama kali menggulirkan isu tersebut pada Agustus 2010. Rencana itu memicu kontroversi di masyarakat, ada yang setuju ada yang tidak karena masih trauma dengan pengalaman sanering pada 1959. Wakil Presiden Boediono lalu memerintahkan bank sentral untuk membuat kajian menyeluruh agar bisa diputuskan oleh pemerintah. Bank sentral kemudian akhirnya cooling down dan berkonsentrasi menyelesaikan kajian agar tak memicu kepanikan masyarakat.


Setelah lama tak terdengar, ide itu kembali muncul setelah Darmin mengatakan kajian RUU itu telah final di tangan bank sentral dan sudah diserahkan pemerintah untuk dibahas. Pernyataan Darmin itu disampaikan setelah acara Bankers Dinner, pada Desember 2011.
Deputi Gubernur BI, Ardhayadi, menjelaskan pada saat itu, bahwa RUU itu mengatur hal-hal pokok seperti kapan pelaksanaan redenominasi, bagaimana tahapannya, berapa jumlah nol yang dihapus, penggunaan rupiah baru, dan tata cara pembulatan.


Secara umum, kata Darmin,  draf yang diserahkan kepada pemerintah tak banyak berubah seperti rencana awal yang pernah disampaikan. Satu hal yang pasti, bank sentral menyarankan menghilangkan angka tiga nol, sehingga Rp1.000 menjadi Rp1. Besaran di bawah Rp1.000 akan diubah menjadi sen.


Darmin menilai pecahan mata uang terbesar di Indonesia, Rp100.000, nilainya tak cukup besar. Dia memberikan pembanding, pecahan mata uang dolar Amerika yang paling banyak digunakan di pasar adalah US$100, atau bernilai sama dengan Rp900.000.  


Jika pembahasan RUU Redenominasi dilakukan pada 2012, maka sejak itu akan dimulai  sosialisasi hingga dua tahun. Sesudah itu akan dilakukan masa transisi selama tiga tahun. Pada periode itu, harga barang akan ditulis dengan dua harga berbeda, mata uang baru dan lama. Masyarakat juga menggunakan dua mata uang lama dan baru. Ketika itu, BI akan mengganti mata uang lama yang rusak dengan mata uang baru.


Tahap ketiga, setelah masa transisi, mata uang rupiah lama akan benar-benar habis. Tahap keempat, yang akan dijalankan 7-10 tahun, adalah menggunakan mata uang baru dengan nilai uang lebih kecil, termasuk sen. Rencana RUU yang akan dibahas pada 2012 itu ternyata tak masuk Prolegnas, sehingga tak dibahas tahun ini. Rencananya pemerintah akan memasukkan RUU Redenominasi itu akan dibahas pada 2013.
Sosialisasi
Penyederhanaan penyebutan nilai mata uang rupiah atau redenominasi akan mulai disosialisasikan ke publik pada Desember ini. Konsultasi akan dilakukan di seluruh pelosok daerah Indonesia.


Menteri Keuangan, Agus Martowardojo, mengungkapkan, setelah berkonsultasi dan berkoordinasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Badan Legislasi, dan Komisi XI, diputuskan bahwa pembahasan mengenai hal tersebut akan dilakukan usai konsultasi publik, yaitu sekitar Juni 2013.


"Kami harapkan kalau konsultasi publiknya positif, pada Juni 2013, begitu masa sidang bisa disetujui," ujar Agus di Jakarta, Jumat 30 November 2012.


Agus mengungkapkan, konsultasi publik tersebut sesuai dengan instruksi Presiden pada sidang kabinet beberapa waktu lalu. Upaya tersebut dilakukan guna meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya yang di daerah pelosok terkait kebijakan itu.


Kajian secara akademis pun, menurut dia, saat ini telah selesai. "Prosesnya di pemerintah sudah dibahas antardesk, harmonisasi sudah jadi. Sekarang sudah di Badan Pembinaan Hukum Nasional," tambahnya.


Pemahaman masyarakat, dia melanjutkan, sangat penting dalam mendukung keberhasilan transisi yang akan dijalani. Masyarakat diminta memahami bahwa kebijakan ini bukan hanya penyesuaian digit mata uang, tapi harga jual dan nilai tukar juga akan ikut disesuaikan.


Agus mencontohkan, jika saat ini dengan Rp50 ribu dapat membeli satu cangkir kopi di kafe, setelah disesuaikan menjadi Rp50, harga jual kopi tersebut juga akan mengikuti. "Ini tidak mempengaruhi daya beli," tegasnya.


Dia juga mengatakan, pemerintah ingin memastikan proses penyesuaian ini berjalan baik. Karena, berdasarkan pengalaman, penerapan kebijakan serupa pada masa lalu tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Selasa, 04 Desember 2012

Hidup Sederhana


Islam mengajarkan kita agar hidup sederhana. Dengan hidup sederhana, kita selalu akan merasa cukup, bahagia, dan bersyukur kepada Allah. Sebaliknya Allah melarang kita untuk hidup mewah dan boros.
”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At Takatsuur:1]
”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]
Allah menyebut orang-orang yang mewah sebagai lalai dan masuk neraka. Allah menyebut orang-orang yang boros dan menghamburkan harta untuk kepentingan pribadi secara berlebihan sebagai “SAUDARA SETAN”. Mengapa? Ini karena orang yang boros biasanya akan berlaku zalim. Meski pendapatan besar, karena boros, dia akan selalu merasa kurang. Dia akan mencuri, merampok, korupsi dan sebagainya untuk membiayai gaya hidupnya yang boros itu.
Tak heran jika ada satu pejabat yang lembaganya dikenal sebagai satu lembaga terkorup berkata: “Siapa sih yang gajinya cukup untuk hidup?” Begitu katanya. Padahal selain punya rumah dan mobil mewah, pejabat itu juga punya sepeda motor Harley Davidson yang amat mahal.
Sebaliknya, seorang poisi yang jujur, pak Bibit berkata: “Besar kecil gaji itu relatif. Kalau kita makan di restoran hotel, seminggu juga sudah habis. Tapi kalau sekedar makan nasi kecap dengan lauk tempe, 2 bulan juga masih cukup”. Jadi hiduplah sederhana. Belajar bersikap Zuhud (tidak tamak pada dunia) dan Qana’ah (merasa cukup atas apa yang ada).
Inilah kesederhanaan Nabi. Jika mau, beliau bisa hidup mewah seperti Kaisar Romawi dan Kisra Persia. Tapi beliau tidak mau melakukan itu. Sebagian besar hartanya diberikan untuk ummatnya. Ulama sbg Pewaris Nabi harusnya mewarisi sikap Nabi seperti ini:
Dari Abu Musaal-Asy’ari r.a., katanya: “Aisyah ra mengeluarkan untuk kita -maksudnya agar kita dapat melihatnya- sebuah baju dan sarung kasar, lalu ia berkata: “Rasulullah s.a.w. dicabut ruhnya sewaktu mengenakan kedua pakaian ini.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad ini makanan sekadar menutup kelaparan.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Anas r.a., katanya: “Nabi s.a.w. itu tidak pernah makan di atas meja sehingga beliau wafat, juga tidak pernah makan roti yang diperhaluskan buatannya sehingga beliau wafat.” (Riwayat Bukhari)
Dari Aisyah ra, katanya: “Tidak pernah kenyang keluarga Muhammad s.a.w. itu dari roti gandum selama dua hari terus menerus, keadaan sedemikian ini sampai beliau s.a.w. dicabut ruhnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Selama 2 bulan dapur keluarga Nabi Muhammad tidak “ngebul”. Cuma makan kurma dan air belaka…
Dari Urwah dari Aisyah ra, bahwasanya Aisyah pernah berkata: “Demi Allah, hai anak saudaraku, sesungguhnya kita melihat ke bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit. Jadi tiga bulan sabit yang berarti dalam dua bulan lamanya, sedang di rumah-rumah keluarga Rasulullah s.a.w. tidak pernah ada nyala api.” Saya -yakni Urwah- berkata: “Hai bibi, maka apakah yang dapat menghidupkan Anda sekalian?” Aisyah ra menjawab: “Dua benda hitam, yaitu kurma dan air belaka, hanya saja Rasulullah s.a.w. mempunyai beberapa tetangga dari kaum Anshar, mereka itu mempunyai beberapa ekor unta manihah, lalu mereka kirimkanlah air susunya itu kepada Rasulullah s.a.w. kemudian memberikan minuman itu kepada kita.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Said al-Maqburi dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia berjalan melalui kaum yang di hadapan mereka itu ada seekor kambing yang sedang dipanggang. Mereka memanggilnya, tetapi ia enggan untuk ikut memakannya dan ia berkata: “Rasulullah s.a.w. keluar dari dunia -yakni wafat- dan tidak pernah kenyang dari roti gandum.” (Riwayat Bukhari)
Dari an-Nu’man bin Basyir ra, katanya: “Sungguh-sungguh saya pernah melihat Nabimu s.a.w. dan beliau tidak mendapatkan kurma bermutu rendahpun yang dapat digunakan untuk mengisi perutnya.” (Riwayat Muslim) Daqal adalah kurma yang bermutu rendah.
Dari Sahal bin Sa’ad r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. tidak pernah melihat roti putih sama sekali sejak beliau di utus oleh Allah Ta’ala sehingga dicabut ruhnya oleh Allah Ta’ala. Kepada Sahal ini ditanyakan: “Apakah di zaman Rasulullah s.a.w. itu engkau semua tidak mempunyai alat pengayak?” Ia menjawab: “Rasulullah s.a.w. tidak pernah melihat alat pengayak itu sejak beliau diutus oleh Allah Ta’ala sehingga dicabut ruhnya oleh Allah Ta’ala.” Kepadanya ditanyakan lagi: “Bagaimana caranya engkau semua makan gandum kalau tidak diayak?” Ia menjawab: “Kita semua menumbuknya dan meniupkannya, kemudian beterbanganlah benda-benda yang dapat terbang daripadanya itu lalu mana yang tertinggal, maka itulah yang kami basahi untuk dijadikan adukan tepung -untuk membuat roti.” (Riwayat Bukhari) Ucapannya Annaqi dengan fathahnya nun dan kasrahnya qaf serta syaddahnya ya’ yaitu roti yang berwarna putih dan itulah yang disebut darmak. Tsarrainahu dengan tsa’ mutsallatsah kemudian ra’ musyaddadah lalu ya’ mutsannat di bawahnya, lalu nun, artinya kita basahi dan kita jadikan adukan tepung -guna membuat roti.
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. pada suatu hari atau suatu malam keluar, kemudian tiba-tiba bertemu dengan Abu Bakar dan Umar ra, lalu beliau bertanya: “Apakah yang menyebabkan engkau berdua keluar ini?” Keduanya menjawab: “Karena lapar ya Rasulullah.” Beliau lalu bersabda: “Adapun saya, demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya yang menyebabkan saya keluar ini adalah sesuatu yang juga menyebabkan engkau berdua keluar itu -yakni sama-sama lapar-, Ayolah pergi.” Keduanya pergi bersama beliau s.a.w., lalu mendatangi seorang lelaki dari kaum Anshar, tiba-tiba lelaki itu tidak sedang di rumahnya. Ketika istrinya melihat Nabi s.a.w., lalu berkata: Marhaban wa ahlan. Selamat datang di rumah ini dan harap mendapatkan keluarga yang baik. Rasulullah s.a.w. lalu bertanya: “Di mana Fulan -suamimu?” Istrinya menjawab: “Ia pergi mencari air tawar untuk kita.” Tiba-tiba di saat itu orang Anshar -suaminya itu- datang. Ia melihat kepada Rasulullah s.a.w. dan kedua orang sahabatnya, kemudian berkata: “Alhamdulillah. Tiada seorangpun yang pada hari ini mempunyai tamu-tamu yang lebih mulia daripada saya sendiri. Orang itu lalu pergi kemudian datang lagi menemui tamu-tamunya itu dengan membawa sebuah batang kurma -berlobang- berisikan kurma berwarna, kurma kering dan kurma basah. Iapun berkata: “Silahkanlah makan.” Selanjutnya ia mengambil pisau, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jangan menyembelih yang mengandung air susu.” Orang Anshar itu lalu menyembelih untuk tamu-tamunya itu, kemudian mereka makan kambing itu, juga kurma dari batang kurma tadi serta minum pulalah mereka. Setelah semuanya itu kenyang dan segar -tidak kehausan- lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya engkau semua akan ditanya dari kenikmatan yang engkau semua rasakan ini pada hari kiamat. Engkau semua dikeluarkan dari rumahmu oleh kelaparan. Kemudian engkau semua tidak kembali sehingga engkau semua memperoleh kenikmatan ini.” (Riwayat Muslim) Ucapannya yasta’dzibu artinya mencari air tawar dan itulah air yang bagus. Al-’izdqu dengan kasrahnya ‘ain dan sukunnya dzal mu’jamah, yaitu batang atau dahan -kurma dan lain-lain. Almudyatu dengan dhammahnya mim atau boleh pula dikasrahkan, yaitu pisau. Alhalub ialah binatang yang berisikan susu dalam teteknya. Pertanyaan mengenai kenikmatan ini adalah pertanyaan tentang banyak jumlahnya kenikmatan, bukan pertanyaan sebagai olok-olok dan penyiksaan. Wallahu a’lam. Adapun orang Anshar yang didatangi oleh Rasulullah s.a.w. serta kedua orang sahabatnya itu ialah Abul Haitsam bin at-Taihan. Demikianlah dalam sebuah Hadis yang dijelaskan menurut riwayat Tirmidzi dan lain-lain.
Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a., katanya: “Sesungguhnya saya itu pertama-tama orang Arab yang melempar dengan panahnya -untuk- fisabilillah. Kita semua waktu itu berperang beserta Rasulullah s.a.w. dan kita tidak mempunyai makanan sedikitpun melainkan daun pohon hublah dan daun pohon samurini, sehingga seorang dari kita itu sesungguhnya mengeluarkan kotoran besar sebagaimana keadaan kambing kalau mengeluarkan kotoran besarnya dan tidak dapat bercampur dengan lainnya -yakni bulat-bulat serta kering, karena tidak ada yang dimakan.” (Muttafaq ‘alaih) Alhublah dengan dhammahnya ha’ dan sukunnya ba’ muwah-hadah, juga samur adalah dua macam pohon-pohonan yang terkenal di daerah badiah yakni tanah Arab bagian pedalaman.
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Demi Zat yang tiada Tuhan melainkan Dia, sesungguhnya bahwa saya menyandarkan hatiku ke bumi karena kelaparan dan sesungguhnya pula bahwa saya mengikatkan batu pada perut saya karena kelaparan. Sebenarnya saya pernah duduk-duduk pada suatu hari di jalanan orang-orang yang sama keluar melalui jalanan itu -untuk mencari nafkahnya masing-masing. Kemudian Nabi s.a.w. berjalan melalui tempat saya dan beliau tersenyum ketika melihat saya, karena mengetahui keadaan dan hal ihwal yang ada dalam wajahku dan diriku, kemudian beliau bersabda: “Abu Hir.” Saya menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda lagi: “Mari ikut,” dan beliau terus berlalu dan saya mengikutinya. Selanjutnya beliau masuklah di rumah keluarganya, saya mohon izin lalu beliau mengizinkan masuk untukku. Sayapun masuklah, di situ beliau menemukan susu dalam gelas. Beliau bertanya: “Dari manakah susu ini?” Keluarganya berkata: “Fulan atau Fulanah itu menghadiahkan untuk Tuan.” Beliau bersabda: “Abu Hir.” Saya menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda pula: “Susullah para ahlush shuffah, lalu panggillah mereka untuk datang padaku.” Abu Hurairah berkata: “Ahlush shuffah itu adalah merupakan tamu-tamu Islam, karena tidak bertempat pada sesuatu keluarga, tidak pula berharta dan tidak berkerabat pada seorangpun. Jikalau ada sedekah -zakat- yang datang pada Nabi s.a.w. lalu sedekah -atau zakat- itu dikirimkan semuanya oleh beliau kepada mereka itu dan beliau sendiri tidak mengambil sedikitpun daripadanya, tetapi kalau beliau menerima hadiah, maka dikirimkanlah kepada orang-orang itu dan beliau sendiri mengambil sebagian daripadanya. Jadi beliau bersama-sama dengan para ahlush shuffah itu untuk menggunakannya.” Perintah Nabi s.a.w. memanggil ahlush shuffah itu tidak mengenakkan hati saya dan oleh sebab itu saya berkata: “Apa hubungannya susu ini untuk diberikan -kepada- ahlush shuffah. Saya adalah lebih berhak untuk memperoleh susu ini dengan sekali minuman saja, agar saya dapat merasa kuat tubuhku.” Kemudian, jikalau orang-orang itu datang, Nabi s.a.w. tentu menyuruh saya agar saya memberikan itu kepada mereka. Barangkali tidak akan dapat sampai padaku -yakni bahwa saya tidak memperoleh bagian- susu itu, tetapi juga tidak ada jalan lain kecuali mentaati Allah dan mentaati RasulNya s.a.w. Oleh karena itu mereka saya datangi dan saya panggillah semuanya. Mereka menghadap dan meminta izin, lalu Nabi s.a.w. mengizinkan mereka masuk, juga sama mengambil tempat duduk sendiri-sendiri dalam rumah. Beliau lalu bersabda: “Abu Hir.” Saya menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda lagi: “Ambillah susu itu dan berikanlah kepada mereka.” Abu Hurairah berkata: “Saya lalu mengambil gelas, kemudian saya berikan pada seorang dulu. Ia minum sampai kenyang minumnya lalu gelas dikembalikan. Seterusnya saya berikan kepada yang lain, ia pun minumlah sampai kenyang pula minumnya, lalu dikembalikanlah gelasnya, sehingga akhirnya sampai giliran saya memberikan itu kepada Nabi s.a.w., sedang orang-orang ahlush shuffah itu sudah puas minum semuanya. Beliau s.a.w. mengambil gelas lalu diletakkan di tangannya, kemudian beliau melihat saya dan tersenyum, kemudian bersabda: “Abu Hir.” Saya menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda pula: “Sekarang tinggallah saya dan engkau -yang belum minum.” Saya menjawab: “Benar Tuan, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Duduklah dan minumlah.” Saya pun duduklah lalu saya minum. Beliau bersabda lagi: “Minumlah lagi.” Sayapun minumlah. Beliau tidak henti-hentinya bersabda: “Minumlah lagi,” sehingga saya berkata: “Tidak, demi Allah yang mengutus Tuan dengan benar, saya sudah tidak mendapatkan jalan lagi untuk minum itu -artinya sudah amat kenyang minumnya itu. Setelah itu beliau bersabda: “Kalau begitu, berikanlah saya gelas itu.” Gelaspun saya berikan, kemudian beliau memuji kepada Allah Ta’ala dan membaca bismillah di permulaan minumnya lalu beliau minumlah sisanya itu.” (Riwayat Bukhari)
Dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Sesungguhnya saya pernah mengalami diriku bahwa saya jatuh tersungkur antara mimbarnya Rasulullah s.a.w. dengan biliknya Aisyah ra sampai tidak sadarkan diri. Kemudian datanglah padaku seorang yang datang, lalu ia meletakkan kakinya di atas leher saya dan ia menyangka bahwa sesungguhnya saya adalah orang gila, padahal saya tidaklah kejangkitan penyakit gila, tetapi jatuh saya tadi hanyalah karena kelaparan.” (Riwayat Bukhari)
Dari Aisyah ra, katanya: “Rasulullah s.a.w. wafat sedang baju besinya sedang digadaikan pada seorang Yahudi dengan nilai tiga puluh sha’ -gantang- dari gandum.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Anas r.a., katanya: “Nabi s.a.w. menggadaikan baju besinya dengan gandum dan saya berjalan ke tempat Nabi s.a.w. dengan membawa roti gandum dan lemak cair yang sudah berubah keadaannya. Sungguh-sungguh saya mendengar beliau s.a.w. bersabda: “Tiada sesuatupun pada pagi-pagi ini melainkan hanya segantang untuk para keluarga Muhammad dan tidak ada untuk sore harinya nanti kecuali segantang pula.” Padahal seluruh keluarganya itu adalah sembilan rumah.” (Riwayat Bukhari)
Dari Aisyah ra, katanya: “Hamparan Rasulullah s.a.w. itu terbuat dari kulit dan isinya adalah sabut.” (Riwayat Bukhari)
Dari Imran bin al-Hushain ra dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Sebaik-baik engkau sekalian adalah orang-orang yang sekurun -semasa- denganku, kemudian yang mengikutinya -yang datang sesudahnya- kemudian orang-orang yang mengikutnya.” Imran berkata: “Saya tidak tahu, adakah Nabi s.a.w. mengucapkannya itu dua atau tiga kali.” Nabi s.a.w. selanjutnya menyabdakan: “Kemudian akan datanglah sesudah mereka itu sesuatu kaum yang menjadi saksi, tetapi tidak dapat dipercaya kesaksiannya. Mereka juga berkhianat dan tidak dapat dipercaya amanatnya, demikian pula mereka bernazar, tetapi tidak suka memenuhi nazarnya dan tampaklah kegemukan dalam tubuh mereka. -yakni gemuk yang disebabkan karena terlampau banyak makan, minum dan bersenang-senang dan bukan gemuk karena kejadiannya memang gemuk.” (Muttafaq ‘alaih)
Dari Abu Umamah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hai anak Adam, sesungguhnya jikalau engkau memberikan apa-apa yang kelebihan padamu, sebenarnya hal itu adalah lebih baik untukmu dan jikalau engkau tahan -tidak engkau berikan kepada siapapun, maka hal itu adalah menjadikan keburukan untukmu. Engkau tidak akan tercela karena adanya kecukupan -maksudnya menurut syariat engkau tidak akan dianggap salah, jikalau kehidupanmu itu dalam keadaan yang cukup dan tidak berlebih-lebihan. Lagi pula mulailah -dalam membelanjakan nafkah- kepada orang yang wajib engkau nafkahi.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Dari Ubaidullah bin Mihshan al-Anshari al-Khathmi r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa diantara engkau semua telah merasa aman -dari musuhnya- dalam dirinya, sehat dalam tubuhnya, memiliki keperluan hidup -makan, minum, obat dan apa-apa yang dibutuhkan dalam kehidupannya- pada hari itu, maka ia telah dikaruniai dunia dengan keseluruhan isinya.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.
Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash ra bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sungguh berbahagialah orang yang masuk Agama Islam serta diberi rezeki cukup dan diberi sifat qana’ah -suka menerima- dengan apa-apa yang telah dikaruniakan oleh Allah.” (Riwayat Muslim)
Dari Abu Muhammad yaitu Fadhalah bin Ubaid al-Anshari r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Untung besarlah kehidupan seorang yang telah dikarunia petunjuk untuk memasuki Agama Islam, sedang hidupnya itu adalah dalam keadaan cukup dan pula ia bersifat qana’ah -suka menerima.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.
Dari Ibnu Abbas ra, katanya: “Rasulullah s.a.w. dalam beberapa malam yang berturut-turut itu bermalam dalam keadaan terlipat -maksudnya terlipat perutnya karena lapar, sedang para keluarganya tidak mendapatkan sesuatu untuk makan malam, juga sebagian banyak roti yang dimakan itu adalah roti terbuat dari gandum.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Dari Abu Karimah, yaitu al-Miqdad bin Ma’dikariba r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidaklah seorang memenuhi sesuatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah sebenarnya seorang itu makan beberapa suapan yang dapat mendirikan -menguatkan- tulang rusuknya. Maka jikalau makanan itu harus diisikannya, maka sepertiga hendaklah untuk makanannya dan sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk pernafasannya.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.
Dari Abu Umamah, yaitu Iyas bin Tsa’laba al-Anshari al-Harits r.a., katanya: “Para sahabat Rasulullah s.a.w. pada suatu hari menyebut-nyebutkan di sisi beliau itu tentang hal dunia -yakni perihal kesenangan, kekayaan dan lain-lain. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidakkah engkau semua mendengar, tidakkah engkau semua mendengar bahwa badzadzah itu termasuk keimanan, bahwa badzadzah itu termasuk keimanan.” Yakni taqahhul. (Riwayat Abu Dawud) Albadzadzah dengan ba’ muwahhadah dan dua dzal yang mu’jamah artinya ialah keadaan yang serba kusut dan meninggalkan pakaian yang indah-indah. Adapun taqahhul, dengan qaf dan ha’ maka para ahli Lughat mengatakan bahwa orang yang bertaqahhul ialah orang yang kering kulitnya karena keadaan hidupnya yang serba kasar dan meninggalkan kemewahan dalam segala hal.
Dari Abu Abdillah bin Jabir bin Abdullah ra, katanya: “Kita dikirimkan oleh Rasulullah s.a.w. -ke medan peperangan- dan mengangkat Abu Ubaidah r.a. sebagai amir -panglima- untuk memimpin kita, guna menemui kafilah orang-orang Quraisy. Kita semua membawa bekal sebuah tempat berisi kurma dan kita tidak menemukan selain itu. Abu Ubaidah memberikan kita sekurma demi sekurma. Kepada kita ditanyakan -oleh orang lain: “Bagaimanakah engkau semua berbuat dengan sebiji kurma itu.” Jawabnya: “Kita mengisapnya sebagaimana seorang anak bayi mengisap tetek. Kemudian kita minum air setelah itu. Keadaan sedemikian ini mencukupi kita untuk sehari itu sampai malam. Kita juga memukul daun-daunan dengan tongkat-tongkat kita, lalu kita basahi dengan air, kemudian kita makanlah itu. Seterusnya kita berangkat ke pantai laut, lalu tampaklah di atas kita di pantai laut tadi, seolah-olah seperti tumpukan pasir yang besar, lalu kitapun mendatanginya. Tiba-tiba yang tampak itu adalah seekor binatang yang dinamakan ikan lodan -hiu. Abu Ubaidah lalu berkata: “Bangkai,” kemudian ia berkata lagi: “Oh tidak -maksud-nya tidak haram diambil dagingnya untuk dimakan-. Bahkan kita ini adalah utusan-utusan dari Rasulullah s.a.w. dan dalam berjuang fisabilillah. Engkau semua adalah dalam keadaan terpaksa. Maka dari itu makanlah olehmu semua.” Kita semua berdiam -sambil makan ikan tersebut- dalam waktu sebulan lamanya dan jumlah kita seluruhnya adalah tiga ratus orang, sehingga kita semuapun menjadi gemuklah. Sesungguhnya saya melihat bahwa kita semua menciduk dari lobang matanya itu dengan beberapa gayung akan minyaknya dan kita memotong daripadanya itu beberapa potongan daging sebesar lembu atau kira-kira selembu-selembu besarnya. Sungguh-sungguh Abu Ubaidah menyuruh seorang dari kita sebanyak tiga belas orang, diperintah olehnya supaya duduk dalam lobang matanya dan supaya mengambil tulang rusuknya, lalu ditegakkan dan dimuatkan pada unta yang terbesar yang ada beserta kita. Ia berjalan di bawahnya. Kita juga mengambil bekal dari dagingnya yang telah dikeringkan -dijadikan dendeng. Setelah kita semua datang di Madinah, kita mendatangi Rasulullah s.a.w., lalu kita ceritakanlah hal itu kepada beliau, lalu beliau bersabda: “Itu adalah rezeki yang dikeluarkan oleh Allah untukmu semua. Adakah engkau semua membawa sedikit dagingnya, supaya dapat memberikan sedekahnya untuk makanan kita?” Kita semua mengirimkan kepada Rasulullah s.a.w. sebagian dagingnya itu, kemudian beliau s.a.w. memakannya.” (Riwayat Muslim) Aljirab ialah wadah dari kulit yang sudah dapat dimaklumi. Lafaz ini dibaca dengan kasrahnya jim atau boleh pula dengan fathahnya, tetapi dengan kasrah adalah lebih fashih. Namashshuha dengan fathahnya mim. Alkhabath ialah daun-daunan dari pohon yang dikenal dan dimakan oleh unta. Alkatsib ialah timbunan dari pasir. Alwaqbu dengan fathahnya wawu dan saknahnya qaf dan sesudahnya itu ialah ba’ muwahhadah, ialah lobang mata. Alqilal ialah gayung. Aifidar dengan kasrahnya fa’ dan fathahnya dal yaitu beberapa potong. Rahala ba’ira yaitu memberikan beban pada unta. Alwasyaiq dengan syin mu’jamah dan qaf ialah daging yang dipotong-potong untuk dikeringkan. Wallahu a’lam.
Dari Asma’ binti Yazid ra, katanya: “Ujung lengan baju gamisnya Rasulullah s.a.w. itu adalah sampai di pergelangan tangan.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.
Ahmad Dinejad (Presiden Iran)
Dari Jabir r.a., katanya: “Sesungguhnya kita semua pada hari khandak -menggali tanah untuk perlindungan diri sebelum timbulnya peperangan dan peperangan di waktu itu disebut perang khandak, artinya parit-, kita semua menggali. Kemudian pada penggalian itu terhalang oleh adanya gumpaian tanah yang keras. Para sahabat sama-sama mendatangi Nabi s.a.w., lalu berkata: “Tanah keras ini menghalang-halangi untuk kelanjutan penggalian parit.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Saya akan turun.” Selanjutnya beliau s.a.w. terus berdiri, sedang perut beliau itu diikat di situ dengan sebuah batu -karena kelaparan. Kita semua memang sudah selama tiga hari itu tidak merasakan rasa makanan apapun. Nabi s.a.w. lalu mengambil cangkul, terus memukulnya, maka kembalilah tanah keras itu bagaikan tumpukan pasir yang hancur lebur. Kemudian saya berkata: “Ya Rasulullah, berilah saya izin untuk pulang ke rumah.” Seterusnya saya lalu berkata kepada istriku: “Saya telah melihat sesuatu dalam diri Nabi s.a.w. -yakni pengganjalan perut dengan batu itu- yang tidak dapat disabarkan lagi. Maka adakah engkau mempunyai sesuatu -yang dapat dimakan?” Istrinya menjawab: “Saya mempunyai gandum dan kambing perempuan. Kambing itu lalu saya sembelih, sedang istriku menumbuk gandum, sehingga dagingnya itu kita letakkan dalam periuk. Kemudian saya mendatangi Nabi s.a.w., sedangkan adukan makanan itu telah pecah -yakni sudah lumat dan halus- dan kuali yang ada diantara batu-batu itu telah hampir masak isinya. Saya berkata kepada beliau s.a.w.: “Saya mempunyai sedikit makanan ya Rasulullah, maka dari itu silakan Tuan berdiri -yakni pergi ke tempat saya- bersama seorang atau dua orang saja. Beliau bertanya: “Berapa banyaknya itu?” Saya menyebutkan sebagaimana adanya -yakni kambing dengan gandum yang cukup untuk beberapa orang saja. Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Banyak itu dan enak sekali, katakanlah kepada istrimu, janganlah diangkat dulu periuknya, juga jangan pula diambil roti itu dari dapur, sehingga saya datang nanti.” Seterusnya beliau s.a.w. bersabda: “Berdirilah engkau semua,” maka berdirilah semua kaum Muhajirin dan Anshar -yang ikut membuat parit-. Saya masuk kepada istriku lalu saya berkata: “Celaka ini. Nabi s.a.w. datang dengan semua kaum Muhajirin dan Anshar, jadi semua yang menyertainya.” Istrinya berkata: “Adakah beliau menanyakan banyaknya makanan?” Saya berkata: “Ya.” Seterusnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Masuklah engkau sekalian dan jangan berjejal-jejalan.” Beliau s.a.w. mulai memotong roti dan diberikanlah pula di situ dagingnya dan selalu menutupi periuk dan dapur itu apabila beliau mengambil daripadanya dan mendekatkan kepada sahabat-sahabatnya itu, kemudian ditariklah kualinya itu -sesudah diambilkan isinya. Tidak henti-hentinya beliau s.a.w. memotong roti itu dan menciduk kuah sehingga sekalian sahabatnya itu kenyang semua dan masih ada pula sisanya dalam kuali. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Makanlah ini dan berikanlah hadiah -kepada orang-orang lain seperti tetangga, sebab sesungguhnya para manusia itu terkena bencana kelaparan-. (Muttafaq ‘alaih)
Dari Anas r.a., katanya: “Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim: “Saya mendengar suara Rasulullah s.a.w. itu lemah sekali dan saya mengetahui bahwa beliau adalah dalam keadaan lapar. Maka dari itu, apakah engkau tidak mempunyai sesuatu untuk dimakan?” Ummu Sulaim lalu mengeluarkan beberapa bulatan dari gandum, kemudian ia mengambil kerudungnya, kemudian ia melipatkan roti dengan sebagian kerudung tadi, lalu memasukkannya di bawah bajuku dan mengembalikannya padaku dengan sebagian lagi -maksudnya bahwa Ummu Sulaim itu melipat roti dengan sebagian kerudung dan dengan sebagiannya lagi dilipatkan untuk Anas-. Seterusnya Ummu Sulaim menyuruh saya -Anas- untuk menemui Rasulullah s.a.w., lalu saya pergi dan saya menemui Rasulullah s.a.w. sedang duduk di dalam masjid disertai oleh orang-orang banyak. Seterusnya lalu saya berdiri di muka orang-orang itu, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Adakah engkau diutus oleh Abu Thalhah.” Saya menjawab: “Ya.” Beliau bersabda lagi: “Apakah untuk sesuatu makanan?” Saya menjawab: “Ya.” Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda kepada sahabat-sahabatnya yang ada di masjid: “Berdirilah engkau semua dan berangkatlah.” Saya juga berangkat mengikuti mereka itu, sehingga datanglah saya kepada Abu Thalhah, lalu saya memberitahukan padanya -bahwa Nabi s.a.w. mengajak orang banyak. Abu Thalhah berkata: “Hai Ummu Sulaim. Rasulullah s.a.w. telah datang dengan orang-orang banyak, sedangkan kita tidak mempunyai sesuatu untuk memberi makanan kepada mereka semuanya itu.” Istrinya berkata: “Allah dan RasulNya adalah lebih mengetahui itu.” Abu Thalhah lalu berangkat sehingga bertemu dengan Rasulullah s.a.w., kemudian berhadapanlah Rasulullah s.a.w. dengannya sehingga keduanya itu masuk rumah. Selanjutnya Rasulullah bersabda: “Bawa saya kemari apa yang engkau punyai, hai Ummu Sulaim.” Wanita itu datang dengan roti tersebut di atas, lalu Rasulullah s.a.w. menyuruh supaya dipotong-potongkan dan Ummu Sulaim memeraskan di atas roti itu suatu tempat berisi samin, maka itulah yang merupakan lauknya. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda sekehendak yang beliau sabdakan, selanjutnya lalu bersabda pula: “Izinkanlah masuk sepuluh orang.” Orang sepuluh itu diizinkan masuk lalu mereka semuanya makan sehingga kenyang, lalu keluarlah setelah itu. Seterusnya beliau bersabda lagi: “Izinkanlah masuk sepuluh orang lagi.” Orang sepuluh itu diizinkan lalu mereka makan sehingga kenyang kemudian keluarlah mereka itu pula. Beliau s.a.w. bersabda lagi: “Izinkanlah masuk sepuluh orang lagi.” Demikianlah sehingga seluruh kaum -yakni yang menyertai Nabi s.a.w. dari masjid- dapat makan sehingga kenyang semuanya, sedangkan jumlah kaum itu ada tujuh puluh atau delapan puluh orang.” (Muttafaq ‘alaih)
Nabi tidak mau memakai pakaian sutera meski beliau mampu:
Hadis riwayat Uqbah bin Amir ra., ia berkata: 
Rasulullah saw. diberi hadiah sejenis pakaian luar dari sutera. Beliau memakainya untuk mendirikan salat. Ketika selesai salat, beliau segera menanggalkannya dengan keras seperti tidak menyukainya kemudian bersabda: Tidak pantas pakaian ini untuk orang-orang yang bertakwa. (Shahih Muslim No.3868)
Hadis riwayat Anas bin Malik ra. berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa mengenakan pakaian sutera di dunia, maka ia tidak akan memakainya di akhirat. (Shahih Muslim No.3866)
Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Dari Qatadah ia berkata: Kami bertanya kepada Anas bin Malik: Pakaian apakah yang paling disukai dan dikagumi Rasulullah saw.? Anas bin Malik ra. menjawab: Kain hibarah (pakaian bercorak terbuat dari kain katun). (Shahih Muslim No.3877)
Nabi juga membuang cincin emas yang dia pakai dan menggantinya dengan cincin perak yang lebih murah. Itu pun untuk keperluan stempel negara:
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Dari Nabi saw., beliau melarang memakai cincin emas. (Shahih Muslim No.3896)
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:
Bahwa Rasulullah saw. menyuruh untuk membuatkan cincin dari emas. Beliau meletakkan mata cincinnya pada bagian dalam telapak tangan bila beliau memakainya. Orang-orang pun berbuat serupa. Kemudian suatu ketika, beliau duduk di atas mimbar lalu mencopot cincin itu seraya bersabda: Aku pernah memakai cincin ini dan meletakkan mata cincinnya di bagian dalam. Lalu beliau membuang cincin itu dan bersabda: Demi Allah, aku tidak akan memakainya lagi untuk selamanya! Orang-orang juga ikut membuang cincin-cincin mereka. (Shahih Muslim No.3898)
Selain cincin perak, perhiasan lain yang menyerupai wanita seperti gelang, kalung, dan anting itu haram dipakai oleh lelaki.
Nabi melarang kita memakai emas dan perak untuk perabot rumah seperti gelas, bejana, atau kloset. Emas dan perak itu harus dipakai untuk kebaikan masyarakat. Bukan untuk sombong berlebih-lebihan!
Hadis riwayat Ummu Salamah ra., istri Nabi saw.:
Rasulullah saw. bersabda: Orang yang minum dengan wadah yang terbuat dari perak, sesungguhnya menggelegak dalam perutnya api neraka Jahanam. (Shahih Muslim No.3846)
Hadis riwayat Hudzaifah bin Yaman ra.:
Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian minum dalam wadah emas dan perak dan jangan mengenakan pakaian sutera sebab pakaian sutera itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian di akhirat pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.3849)
Nabi hidup sederhana. Meski demikian, tidak berarti negara Islam yang beliau pimpin jadi lemah. Justru segala harta itu sebagian besar dipakai untuk mensejahterakan rakyatnya, membiayai dakwah dan jihad sehingga kaum kafir Musyrik, Yahudi, Kerajaan Romawi, dan Kerajaan Persia tidak mampu menyerang Negara Islam. Sebaliknya, merekalah yang bertekuk lutut.


Sumber:
http://www.4shared.com/file/50008156/49789fb9/Riyadhus_Salihin__buku_1____Imam_Nawawi.html
http://www.4shared.com/file/50008127/713e39e8/Riyadhus_Salihin__buku2____Imam_Nawawi.html
Read more http:// media- islam.or.id/2012/10/16/hidup-sederhana-menurut-islam/