“Apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat, saya ingat; dan apa yang saya lakukan saya paham” (Confusius)
Tampilkan postingan dengan label Model Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Model Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Desember 2013

Apa dan Bagaimana MICROTEACHING

Terminologi pembelajaran mikro (microteaching) pertama kali dicetuskan oleh A.W. Dwight Allen dari Stanford University, pada tahun 1963.[1] Dijelaskan Allen pembelajaran mikro adalah pembelajaran yang sekalanya diperkecil, berkaitan dengan ukuran kelas, waktu pelajaran, dan kompleksitas pembelajaran.[2] Selanjutnya pembelajaran mikro didefinisikan para ahli pendidikan secara beragam, sesuai dengan perspektif masing-masing.

Perspektif Pengertian Pembelajaran Mikro

Setidaknya terdapat tiga  perspektif para ahli mengenai pengertian pembelajaran mikro, yaitu sebagai: teknik pendidikan guru; teknik melatih guru;  prosedur melatih guru. Perspektif pertama, tercermin dari pengertian pembelajaran mikro yang dikemukakan oleh M.B. Buch (1968) dan Bush (1968). Hampir senada mereka  mengemukakan pembelajaran mikro adalah teknik pendidikan guru, yang memungkinkan guru dapat menerapkan keterampilan yang jelas dalam kurun waktu 5 sampai 10 menit pada sekelompok kecil siswa yang sesungguhnya, dan terdapat kesempatan untuk mengamati hasilnya dengan menggunakan rekaman video.[3]
Perspektif kedua, dapat ditemukan pada definisi yang dikemukakan oleh para ahli berikut.  Pass, B.K. (1976) mengemukakan pembelajaran mikro adalah sebuah teknik pelatihan yang membutuhkan murid-guru untuk mengajar sebuah konsep tunggal dengan menggunakan keterampilan mengajar tertentu pada sejumlah kecil siswa dalam durasi waktu yang singkat.[4] Gagasan yang mendasari teknik ini adalah bahwa tindakan pengajaran terdiri dari keahlian yang berbeda. Setiap keterampilan dapat dikembangkan melalui pelatihan secara terpisah. Anggapan dasarnya adalah bahwa, semakin banyak keterampilan dilatihkan kepada seseorang, maka dia akan semakin efisien menjadi seorang guru.[5]
Perspektif ketiga, pengertian pembelajaran mikro dapat ditelusuri dari pendapat-pendapat berikut. Pembelajaran mikro adalah prosedur praktek mengajar dengan pengurangan waktu dan jumlah murid untuk keterampilan mengajar yang spesifik.[6] Situasi pengajaran dibuat sederhana dan dapat dikontrol, jelas Clift (1976).[7] Pengontrolan biasanya menggunakan Closed Circuit Television (CCTV) untuk memberikan umpan balik secara langsung terhadap kinerja guru.[8]
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dapat dikemukakan pengertian pembelajaran mikro mengandung makna sebagai berikut:
  1. Merupakan teknik melatih guru.
  2. Durasi setiap pembelajaran mikro adalah 5 sampai 10 menit.
  3. Perangkat pelatihan sangat individual.
  4. Hanya satu keahlian yang dilatihkan setiap kali berlatih.
  5. Jumlah siswa sebanyak 5 sampai dengan 10 orang.
  6. Menggunakan rekaman video dan CCTV untuk  melakukan pengamatan secara objektif.
  7. Umpan balik dilakukan langsung setelah praktek selesai.
Prinsip - prinsip
Pelaksanaan microteaching perlu memperhatikan beberapa prinsip. Neeraja, K.P. mengemukakan empat prinsip dari microteaching, yaitu: EnforcementPractice and drillContinuityMroscopic supeicrvision [1]. Berikut ini dijelaskan prinsip-prinsip tersebut.
Enforcement
Umpan balik (feedback), dan re-teaching, akan membuat pembelajaran menjadi sempurna.
Practice and drill
Mengajar adalah keterampilan yang kompleks yang membutuhkan latihan dan praktek yang konsisten.  Latihan dilakukan terhadap setiap tugas atau keterampilan kecil. Dengan latihan yang konsisten  akan memperoleh penguasaan keterampilan mengajar yang utuh.
Continuity
Microteachig merupakan proses yang berkesinambungan: teaching-feedback-re-teaching-feedback sampai kesempurnaan tercapai.
Mroscopic supeicrvision
Supervisor memiliki jadwal observasi untuk membimbing dan membuat penilaian pada skala penilaian tertentu. Supervisor mengamati semua poin penting, memberikan perhatian penuh pada satu titik pada suatu waktu.

Prinsip-prinsip Pembelajaran Mikro: Sharma, R.M,  Chandra, S.S

Bila Neeraja, K.P. mengemukakan empat prinsip dari micro teaching, Sharma, R.M,  Chandra, S.S. mengemukakan enam prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan micro teaching, yaitu: Principle of practicePrinciple of reinforcementPrinciple of experimentationPrinciple of evaluationPrinciple of precise supervisionPrinciple of continuity. [2] Berikut ini dijelaskan masing-masing perinsip tersebut.
Principle of practice
Pepatah mengungkapkan “Praktek membuat manusia menjadi sempurna”. Jika kegiatan diulang lagi dan lagi, itu adalah belajar efektif. Micro teaching memberikan praktek dalam setiap tugas dan keterampilan kecil kepada guru untuk mendapatkan penguasaan keterampilan.
Principle of reinforcement
Sejak lama nilai penguatan dalam proses pembelajaran telah diakui. Ini melibatkan guru dalam mendorong respon murid, menggunakan pujian lisan, dan tanggapan non-verbal. Dalam pembelajaran micro teaching dorongan penguatan diberikan kepada guru dari waktu ke waktu agar penampilannya lebih baik melalui umpan balik, sehingga ia mencapai kepuasan dan penampilannya meningkat. Penguatan dan umpan balik merangsang guru untuk belajar dan mengajar dengan lebih baik.
Principle of experimentation
Microteaching lahir dalam percobaan. Dilaksanakan melalui pengamatan obyektif dari tindakan yang dilakukan dalam kondisi yang terkendali. Oleh karena itu, kondisi yang terkendali diperlukan dalam mikro-teaching. Guru, murid, dan supervisor melakukan percobaan keterampilan mengajar dalam kondisi yang terkendali. Variabel seperti waktu, materi, siswa dan teknik mengajar dimanipulasi atau dikontrol dengan konsisten.
Principle of evaluation
Evaluasi yang tepat dari aktivitas guru, akan menjadi motivasi yang efektif untuk belajar dan mengajar yang lebih baik. Supervisor mengevaluasi setiap pembelajaran mikro Namun demikian dalam micro teaching, evaluasi diri (self-evaluation) juga diperbolehkan. Dengan bantuan rekaman video guru dapat mengevaluasi kinerja sendiri. Perbaikan dapat dilakukan atas dasar evaluasi diri.
Principle of precise supervision
Pengawasan atas microteaching harus dilakukan secara spesifik dan tepat. Supervisor memberikan perhatian penuh terhadap satu aspek pada suatu waktu. Baik pengawas maupun guru  mempunyai pemahaman yang sama mengenai tujuan pelajaran mikro. Supervisor memiliki sebuah observation schedule yang di isi saat melakukan observasi. Ia melakukan penilaian dengan menggunakan rating scale. Penilaian adalah metode di mana pernyataan atau pendapat mengenai suatu sifat tertentu disistematisasi.
Principle of continuityMicroteaching membutuhkan kontinuitas. Guru belajar dan terus belajar mengenai keterampilan mengajar (teaching skills), melalui tahapan: Discussing-PIanning-Teaching-Feedback-Replanning-Reteaching, sampai penguasaan keterampilan mengajar dicapai.

Komponen

Kinerja dalam microteaching tergantung pada umpan balik yang diterima. Kinerja melalui umpan balik juga dipengaruhi oleh kegiatan dan komponen microteaching. Secara umum, terdapat empat komponen pembelajaran mikro (microteaching), yaitumodellingfeedbacksetting, dan integration. Berikut ini dijelaskan masing-masing komponen tersebut.[1]
Komponen Pembelajaran Mikro 285x300 Komponen Pembelajaran Mikro
Modelling
Pemodelan (modeling) adalah cara penyajian keterampilan. Menurut Allen dan Ryan pemodelan adalah pola yang menunjukkan perilaku individu tertentu, dimana siswa belajar melalui imitasi (tiruan). Pemodelan pada dasarnya disajikan dalam tiga format, yaitu persepsi, simbolik dan audio. Ketika sebuah film atau rekaman atau model hidup dari perilaku yang diinginkan dari keterampilan tertentu ditunjukkan kepada guru dengan tujuan untuk memperoleh keterampilan melalui imitasi, ini dikenal sebagai pemodelan persepsi. Bahan tertulis membentuk dasar untuk pemodelan simbolik sementara pemodelan audio melibatkan kaset audio. Semua format ini dapat digunakan baik secara tunggal atau kombinasi. Komponen-komponen pemodelan merupakan tahap akuisisi pengetahuan, agar guru terbiasa dengan komponen keterampilan mengajar tertentu.
Feedback
Umpan balik (feedback) diberikan atas dasar pengamatan sistematis terhadap pelajaran microteaching. Pengamatan dilakukan melalui dua jenis alat, yaitu Teacher Behaviour Occurrence Schedule (TBOS) dan skala penilaian. Umpan balik diberikan setelah pengamatan melalui berbagai sumber, misalnya CCTV, audio dan video kaset, teman sebaya, dan supervisor.  Umpan balik terdiri atas tiga jenis, yaitu positif, negatif dan campuran, yang dapat diberikan kepada kelompok atau secara individu. Ketika guru diberi informasi mengenai aspek yang baik dari penampilannya, ini merupakan umpan balik positif. Umpan balik semacam ini diberikan untuk memotivasi guru. Tetapi beberapa ahli berkeyakinan bahwa aspek yang masih kurang baik perlu juga disampaikan kepada guru. Ini disebut dengan umpan balik negative. Umpan balik seperti ini perlu diberikan agar guru dapat memperbaiki penampilan mengajarnya.
Setting
Pengaturan (setting), dilakukan terhadap kondisi yang diperlukan untuk melaksanakan micro teaching. Pengaturan meliputi ukuran kelas, durasi waktu, dan supervisor. Biasanya ukuran kelas terdiri atas 5 sampai 6 siswa, sedangkan durasi waktu selama 5 sampai 10 menit.
Integration
Integrasi keterampilan mengajar dimaksudkan untuk kelancaran transfer situasi microteaching ke situasi real teaching. Dengan bantuan integrasi, seorang guru memperoleh kemampuan untuk melihat situasi pengajaran, memilih dan mengatur keterampilan mengajar dan menggunakannya secara efektif. Integrasi keterampilan Mengajar ini antara lain dapat dilakukan dengan melaksanakan pengajaran mini (mini teaching).
Dalam perspektif yang lain, secara khusus microteaching memiliki komponen-komponen penting yang harus ada selama pembelajaran berlangsung, yaitu[2]:
Micro-Teaching Situation.
Situasi microteaching berkaitan dengan ukuran kelas, durasi waktu dan ruang lingkup materi. Ukuran kelas terdiri atas 5 sampai 10 orang siswa. Durasi waktu yang digunakan untuk satu kali  penampilan terentang atara 5 sampai 10 menit.
Teaching Skill
Guru mengikuti program micro teaching untuk mengembangkan keterampilan Mengajar, antara lain keterampilan menjelaskan, keterampilan menggunakan papan tulis, dan keterampilan mengajukan pertanyaan.
Student Teacher
Orang yang akan mempraktekan keterampilan Mengajar disebut student teacher atau pupil teacher.  (dalam bahasa Indonesia dekenal dengan istilah Praktikan). Praktikan akan mengembankan kapasitasnya dalam mempraktekan keterampilan mengajar.
Feedback Devices
Memberikan umpan balik sangat penting bagi perubahan perilaku praktikan dalam menggunakan keterampilan mengajar. Umpan balik ini dapat diberikan melalui rekaman video dan kuesioner umpan balik
Micro Teaching Laboratory
Microteaching sebaiknya dilaksanakan dalam lab khusus. Di lab ini praktikan diamati oleh supervisor dan/atau teman sebaya untuk mengukur kemampuan mengajar dan juga untuk mengetahui umpan balik dari penampilannya.

Langkah Pembelajaran MicroTeaching

Microteaching  merupakan sebuah proses praktek mengajar dengan jumlah murid yang sedikit, durasi waktu yang singkat dan fokus pada keterampilan mengajar yang sempit dan spesifik. Sebagai sebuah proses, pelaksanaan micro teaching dilakukan melalui tujuh tahapan. Tujuh tahapan micro teaching  tersebut merupakan sebuah siklus. Siklus ini dapat diulang sesuai dengan kebutuhan perbaikan. [1] Berikut ini dijelaskan tahapan-tahapan atau langkah-langkah pembelajaran mikro (microteaching).
Langkah langkah Pembelajaran Mikro 300x220 Langkah langkah Pembelajaran Mikro
Tahap 1:     Modeling the Skill
Tahap ini penting untuk mengarahkan peserta pelatihan kepada keterampilan mengajar yang akan dipraktekkan. Tahapan ini disebut Modeling. Terdapat dua jenis modeling, yaitu  Perceptual Model dan Conceptual Model. Model pertama disajikan dengan cara demonstrasi dan secara visual dirasakan oleh peserta pelatihan. Model kedua, disajikan dalam bentuk bahan tertulis dan dikonsep oleh peserta pelatihan.
Tahap 2:     Planning a micro-lesson
Pada tahap ini ditentukan materi pelajaran yang tepat yang dapat memaksimalkan latihan keterampilan mengajar, dalam durasi waktu 5 sampai 7 menit.
Tahap 3:     The teaching session
Rencana pelajaran pada tahap ini dilaksanakan di hadapan supervisor atau teman sebaya. Penampilan guru yang mempraktekkan keterampilan mengajar diamati dan dicatat. Lembar evaluasi, tape recorder, dan/atau video tapes dapat digunakan untuk keperluan tesebut
Tahap 4:     The critique session
Supervisor dan/atau kelompok teman sebaya membahas kinerja guru mikro. Umpan balik dan poin-poin penting disampaikan kepada guru mikro untuk diperbaiki. Alat evaluasi memberikan kesempatan langka kepada guru mikro untuk melihat penampilannya secara objektif.  Guru mikro tidak diberi kesempatan untuk mengajukan pembelaan diri. Ini adalah kekuatan dan kekhasan dari micro teaching.
Tahap 5:     The re-planning session
Guru mikro menyusun rencana pengajaran berdasarkan umpan balik yang ditawarkan dalam critique session. Waktu yang disediakan untuk tahap ini adalah 5 sampai 7 menit.
Tahap 6:     The re-teaching session
Langkah ini memberikan kesempatan kepada guru mikro untuk mengajarkan unit yang sama, dan keterampilan yang sama. Namun tentu saja penampilan guru mikro pada sesi ini harus sudah memperhatikan umpan balik dari supervisor dan/atau teman sebaya. Pada sesi ini, pengawas dan/atau pengamat teman sebaya mengevaluasi kinerja guru mikro menggunakan alat evaluasi.
Tahap 7:     The re-critique session
Prosedur yang sama diadopsi sebagaiman disebutkan dalam critique session (Tahap-4). Guru mikro, kembali mendapat umpan balik dan mengetahui sejauh mana perbaikannya. Langkah ini memiliki potensi memotivasi guru-mikro untuk meningkatkan penampilannya di masa yang akan datang.


Kamis, 10 Oktober 2013

Metode Pembelajaran DPLS (Double Loop Problem Solving)

DPLS (Double Loop Problem Solving) adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama dari timbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanjutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. DLPS juga merupakan salah satu metode yang banyak digunakan untuk menunjang pendekatan pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Metode DLPS adalah sebuah metode yang di adopsi dari metode Problem Solving. Metode Problem Solving (metode pemecahan masalah) adalah bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
Metode DLPS juga dikenal dengan Metode Pengambilan keputusan. Keputusan seperti apa? Keputusan yang diambil dalam metode ini menyangkut proses mempertimbangan berbagai macam pilihan, yang akhirnya akan sampai pada suatu kesimpulan atas pilihan yang akan diadopsi. Pada saat suatu kelompok diminta untuk membuat keputusan, mereka berusaha untuk mencari konsensus, yang dalam hal ini berarti setiap partisipan, paling tidak, dapat menerima pilihan yang telah diambilnya.
Metode DLPS dapat digunakan dalam institusi pendidikan formal maupun nonformal dan digunakan juga pada program pelatihan. Baik pelatihan off job training (di dalam kelas) maupun on job training (di tempat kerja).

Kenapa Metode Double Loop Problem Solving ?
Apa alasan metode Double Loop Problem Solving (DLPS) dapat dipilih sebagai penunjang pembelajaran? Itu adalah pertanyaan yang pertama kali timbul dibenak kita. Jadi alasan kita harus memilih metode pembelajaran yang mengacu pada pemecahan masalah sebanyak dua kali atau Double Loop Problem Solving adalah karena metode lain seperti merode ceramah, metode demonstrasi dan metode konvensional lainnya dianggap dapat membuat para siswa pasif di dalam kelas. Dapat menimbulkan kecenderungan para peserta didik kepada para pendidik (teacher centered). Selain itu metode konvensional juga dapat menimbulkan rutinisme, peserta didik tidak lagi melihat proses belajar sebagai hal yang menarik serta lebih mudah untuk dilupakan.
Seperti metode pemecahan masalah yang lain seperti PBL yang dibunyinya seperti berikut :“Problem-based learning (PBL) is a method of learning in which learners first encounter a problem followed by a systematic, learner-centered inquiry and reflection process” (Teacher & Educational Development, 2002: 2). Artinya: problem-based learning (PBL) adalah suatu metode pembelajaran di mana pembelajar bertemu dengan suatu masalah yang tersusun sistematis; penemuan terpusat pada pembelajar dan proses refleksi (Teacher & Educational Development, 2002: 2). Metode DLSP juga metode pembelajaran yang dimana pembelajar disodorkan berupa suatu problem atau masalah untuk dipecahkan oleh para peserta didik yang sebelumnya telah dibentuk dalam kelompok kecil yang dipandu oleh para pendidik.
Jadi, DLPS adalah lingkungan belajar yang didalamnya menggunakan masalah untuk belajar. Yaitu sebelum peserta didik memulai pelajaran, mereka diberikan suatu masalah. Masalah diajukan sedemikian rupa sehingga para peserta didik menemukan kebutuhan belajar mereka sendiri tentang pengetahuan baru sebelum peserta didik dapat memecahkan masalah tersebut.
Adapun ciri utama yang terdapat dalam metode Double Loop Problem Solvingadalah pembelajarannya yang berpusat pada pemberian masalah untuk dibahas oleh para peserta didik untuk melatih para peserta didik bisa berfikir dengan kreatif. Dan masalah tersebut dipecahkan melalui dua loop. Dalam hal ini DLPS memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menentukan tujuan belajarnya sendiri. Tapi dalam hal ini juga para pendidik atau guru bukan cuma diam tidak berbuat apa – apa. Para pendidik harus bisa jadi pelatih (coach), fasilitator, dan motivator buat para peserta didik atau siswa. Misalnya apabila para peserta didik mendapati suatu masalah, para pendidik harus bisa memberikan clue agar si peserta didik tadi berfikir lebih kritis akan masalah yang kita berikan kepada mereka. Dengan begitu secara tidak langsung, para pendidik sudah membuat peserta didik untuk berkreatifitas.
Pengambilan keputusan menyangkut proses mempertimbangan berbagai macam pilihan, yang akhirnya akan sampai pada suatu kesimpulan atas pilihan yang akan diadopsi. Pada saat suatu kelompok diminta untuk membuat keputusan, mereka berusaha untuk mencari konsensus, yang dalam hal ini berarti setiap partisipan, paling tidak, dapat menerima pilihan yang telah diambilnya.

Langkah Penyelesaian Masalah
Suatu masalah adalah suatu kesenjangan yang tidak diinginkan antara kondisi yang diinginkan dengan kondisi aktual dari sesuatu yang dianggap penting. Penyebab dari masalah itu sendiri dapat sesuatu yang diketahui atau sesuatu yang tidak diketahui.
Pemecahan masalah menyangkut diambilnya suatu tindakan korektif untuk menutup kesenjangan masalah dengan menghilangkan atau memindahkan penyebab masalah. Oleh karena itu untuk mencapai pemecahan masalah yang tuntas diperlukan identifikasi semua penyebab dari masalah tersebut.
Sebagian besar masalah dapat diketahui penyebab langsungnya, yang jarak waktunya relatif dekat dengan efek masalah yang dihasilkannya. Penyebab langsung ini lebih jelas, dan oleh karena itu lebih mudah dideteksi. Namun demikian, ada juga penyebab yang berada pada aras yang lebih tinggi yang merupakan akar dari penyebab dari masalah yang signifikan. Akar masalah ini berada dalam jarak dan waktu yang lebih jauh, oleh karena itu lebih sulit untuk dideteksi.
Pendekatan Double-Loop Problem Solving, yang disarankan adalah mengakomodasi adanya perbedaan dari penyebab suatu masalah, termasuk mekanisme bagaimana sampai terjadi suatu masalah. Oleh karena itu para peserta didik perlu bekerja pada dua loop pemecahan yang berbeda, tetapi saling terkait.
Loop solusi 1 ditujukan untuk mendeteksi penyebab masalah yang paling langsung, dan kemudian merancang dan menerapkan solusi sementara.
Loop solusi 2 berusaha untuk menemukan penyebab yang arasnya lebih tinggi, dan kemudian merancang dan mengimplementasikan solusi dari akar masalah.

Dan adapun langkah penyelesaian masalah yang lain yang termasuk dalam kriteria metode Double Loop Problem Solving antara lain, yaitu :
1. menuliskan pernyataan masalah awal,
2. mengelompokkan gejala,
3. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi,
4. mengidentifikasui kausal,
5. imoplementasi solusi,
6. identifikasi kausal utama,
7. menemukan pilihan solusi utama, dan
8. implementasi solusi utama.
Tapi untuk memudahkan peserta didik, alangkah baiknya kita memakai langkah penyelesaian masalah yang lebih sederhana dan lebih efisien. Jadi yang paling cocok adalah pendekatan pemecahan masalah yang menggunakan loop 1 dan loop 2.


Pendekatan DLPS
Banyak dari masalah tersebut yang tidak dapat menunggu sampai ditemukan solusi atas akar masalah, dan perlu solusi sementara yang segera. Kadang-kadang, solusi sementara tersebut sudah cukup memadahi, khususnya jika solusi tersebut tidak mahal untuk diimplementasikan, atau tidak menguras sumberdaya penting lainnya. Selain itu, ada banyak kasus yang menunjukkan bahwa solusi sementara dapat efektif sehingga solusi sementara itu akhirnya menjadi solusi permanen dari masalah yang ada. Dalam hal yang terakhir ini berarti tidak ada penyebab masalah tingkat tinggi yang perlu dicarikan solusinya. 

Oleh karena itu pendekatan Double-Loop Problem Solving meliputi:
1. Mengidentifikasi masalah, tidak hanya gejalanya (Identifying the problem, not just the symptoms)
2. Mendeteksi penyebab langsung, dan secara cepat menerapkan solusi sementara(Detecting direct causes, and rapidly applying temporary solutions)
3. Mengevaluasi keberhasilan dari solusi sementara (Evaluating the success of the temporary solutions)
4. Memutuskan apakah analisis akar masalah diperlukan, jika ya (Deciding if root cause analysis is needed; and if so)
5. Mendeteksi penyebab masalah yang arasnya lebih tinggi (Detecting higher level causes; and)
6. Merancang solusi akar masalah (Designing root cause solutions)
Masalah dapat dievaluasi atas dasar tingkat kepentingannya dan kemungkinan dari tingkat kompleksitas solusinya. Penting-tidaknya suatu masalah ditentukan oleh biaya (finansial atau pun non finansial) yang akan muncul jika masalah tetap tidak dipecahkan. Kompleksitas tergantung pada jumlah variabel yang saling terkait dan ketertarikan pada solusi yang kemungkinan akan diterapkan.

Kelebihan DLPS
Setelah kita membahas pengertian, alasan, langkah pemecahan masalah, dan pendekatan pada metode DLPS, tentu terlintas dibenak kita juga apakah manfaat atau kelebihan dari metode DLPS. Adapun manfaat atau kelebihan dari metode DLPS antara lain, yaitu :
1. Dapat menambah wawasan tentang efektivitas penggunaan pembelajaran double loop problem solving untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Dapat lebih menciptakan suasana kelas yang menghargai (menghormati) nilai-nilai ilmiah dan termotivasi untuk terbiasa mengadakan penelitian sederhana yang bermanfaat bagi perbaikan dalam proses pembelajaran serta meningkatkan kemampuan guru itu sendiri.


Kekurangan DLPS
Seperti metode yang lainnya, metode Double Loop Problem Solving juga mempunyai beberapa kelemahan yang wajib diperhatikan oleh seorang peserta didik dalam menerapkan meode DLPS ini, antara lain, yaitu :
1. Tidak semua pelajaran dapat mengandung masalah / problem, yang justru harus dipecahkan. Akan tetapi memerlukan pengulangan dan latihan-latihan tertentu. Misalnya pada pelajaran agama, mengenai cara pelaksanaan shalat yang benar, cara berwudhu, dan lain-lain.
2. Kesulitan mencari masalah yang tepat/sesuai dengan taraf perkembangan dan kemampuan siswa.
3. Banyak menimbulkan resiko. Terutama bagi anak yang memiliki kemampuan kurang. Kemungkinan akan menyebabkan rasa frustasi dan ketegangan batin, dalam memecahkan masalah-masalah yang muskil dan mendasar dalam agama.
4. Kesulitan dalam mengevaluasi secara tepat. Mengenai proses pemecahan masalah yang ditempuh siswa..
5. Memerlukan waktu dan perencanaan yang matang

Adapun saran yang dapat kita harus perhatikan ketika seandainya hendak menerapkan metode DLPS antara lain, yaitu :
1. Dalam memilik masalah mempertimbangkan aspek kemampuan dan perkembangan anak didik.
2. Siswa terlebih dahulu dibekali pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.
3. Bimbingan secara kontinu dan persediaan alat-alat/sarana pengajaran yang perlu diperhatikan.
4. Merencanakan tujuan yang hendak dicapai secara sistematis

Model Pembelajaran CRI (certainly of response index)

Kesalahpahaman ilmiah yang dimiliki siswa diketahui menghambat penerimaan yang tepat dan ion terpadu pengetahuan atau keterampilan baru. Kesalahpahaman ini adalah struktur kognitif yang mengikat yang tidak sesuai dengan apa yang diketahui secara ilmiah benar. kini akan menjelaskan proses diagnosa kemampuan dan kebutuhan siswa secara kuantitatif dalam rangka untuk meresepkan kegiatan pembelajaran yang diperlukan melalui penggunaan Kepastian Indeks Response (CRI).

 CRI (certainly of response index)
Kepastian Indeks Response (CRI) digunakan dalam ilmu-ilmu sosial, terutama di survei, di mana responden diminta untuk memberikan tingkat kepastian ia memiliki kemampuan sendiri untuk memilih dan memanfaatkan mapan pengetahuan, konsep atau hukum untuk tiba di jawabannya. The CRI didasarkan pada beberapa skala. Sebagai contoh, skala enam poin (0-5) di mana 0 berarti tidak ada pengetahuan (Totalmenebak) metode atau hukum yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan tertentu sementara 5 menunjukkan lengkap keyakinan dalam pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan hukum diperlukan untuk sampai pada jawaban yang dipilih. Metodologi yang disajikan di sini didasarkan pada makalah yang ditulis pada Kesalahpahaman dan Kepastian Indeks Response (CRI) oleh Hasan, Bagayoko dan Kelly (1999).

Keputusan matriks untuk individu siswa dan untuk pertanyaan yang diberikan.


Low CRI (<2 o:p="">
Tinggi CRI (> = 2.5)
Benar Jawaban
Jawaban yang benar dan CRI rendah - Kurangnya pengetahuan (menebak beruntung)
Jawaban yang benar dan tinggi CRI - Pengetahuan tentang konsep yang benar
Jawaban Salah
Jawaban yang salah dan CRI rendah - Kurangnya pengetahuan
Jawaban yang salah dan tinggi CRI - Kesalahpahaman



Keputusan matriks untuk sekelompok mahasiswa s (kelas) dan untuk pertanyaan yang diberikan.


Low CRI (<2 o:p="">
Tinggi CRI (> = 2.5)
Benar Jawaban
Jawaban yang benar dan rata-rata rendah CRI - Kurangnya pengetahuan (menebak beruntung)
Jawaban yang benar dan rata-rata CRI tinggi - Pengetahuan tentang konsep yang benar
Jawaban Salah
Jawaban yang salah dan rata-rata rendah CRI - Kurangnya pengetahuan
Jawaban yang salah dan rata-rata CRI tinggi - Kesalahpahaman


Langkah pertama adalah untuk menciptakan sebuah platform pembelajaran berbasis web dengan menggunakan Wikispaces yang menggabungkan materi pelajaran untuk men-download dan belajar dengan siswa serta embedding video bagi siswa untuk bantuan pemahaman (Gambar 1). Siswa juga ditugaskan untuk menjawab 10 pertanyaan pilihan ganda. Selain itu, siswa diminta untuk memilih tingkat kepercayaan bahwa mereka telah menjawab dengan benar untuk setiap pertanyaan. Untuk setiap pertanyaan yang dijawab, para siswa harus memilih kepastian jawaban mereka dengan menggunakan:
(0-Benar-benar menebak jawabannya, 1-Hampir menebak, 2-Tidak yakin, 3 - Tentu, 4-Hampir pasti, 5-Tertentu)

img4 
Gambar. 1

Hasil dari jawaban dan CRI ditangkap ke Excel worksheet (Gambar 2) dan diolah dengan menggunakan Google Formulir (Gambar 3).
 img7
   Gambar. 2

img6
 Gambar. 3


Jika kita mengalihkan perhatian kita untuk Q6 (Gambar 4) untuk 3 kelas, Q6 memiliki jumlah terendah siswa yang mendapatkannya benar dan yang CRI cukup tinggi (sekitar 3,0) (Gambar 5, 6 dan 7). Ini menunjukkan bahwa siswa yang menjawab pertanyaan ini salah yakin bahwa mereka akan bisa melakukannya dengan benar. Dengan demikian, siswa memiliki kesalahpahaman dan bukan kurangnya pengetahuan dan guru akan mampu mendiagnosa daerah mana dari topik bahwa siswa pada umumnya memiliki kesalahpahaman dan dengan demikian akan mampu mengatasinya secara efektif.

img11
 Gambar. 4
 img8
 Gambar. 5
 img9 
 Gambar. 6
 img10
 Gambar. 7

Sebuah survei diberikan kepada siswa (n = 49) dengan menggunakan skala Likert (Gambar 8) dan ada total 5 helai untuk survei ini (lihat pertanyaan dari hasil survei). Setiap untai ditanyakan dalam baik secara positif maupun negatif dalam rangka untuk menguji validitas respon. Hasil survei yang menggembirakan karena siswa pada umumnya diposting respon positif
 img13
 Gambar. 8

Dalam rangka untuk mengukur perakitan untaian ini saling terkait mengukur konstruk yang mendasarinya (persepsi Mahasiswa terhadap pengajaran diagnostik), saya menggunakan indeks keandalan - Alpha Cronbach. Indeks ini pengukur konsistensi internal atau korelasi rata-rata item dalam instrumen survei untuk mengukur kehandalan. Alpha Cronbach dihitung menjadi 0,79 (n = 49). Nunnaly (1978) telah mengindikasikan 0,70 dan di atas menjadi koefisien reliabilitas diterima untuk Cronbach Alpha.

Identifikasi kesalahpahaman menggunakan pengajaran diagnostik memanfaatkan Kepastian Indeks Response (CRI) dapat diperkenalkan dan digunakan oleh mata pelajaran lain dan penelitian telah menunjukkan bahwa hal itu dapat dengan mudah digunakan dan dilaksanakan oleh semua bidang pendidikan . Dari hasil, berbagai kesalahpahaman ilmiah dapat katalog dan digunakan untuk pengajaran di masa depan dan belajar karena didasarkan pada studi empiris dan bukti bukan anekdotal.

Referensi
Hasan, S., Bagayoko, D., & Kelly, EL (1999). Kesalahpahaman dan Kepastian Indeks Response (CRI), Phys. Educ. 34, 294.
Nunnaly, J. (1978). Teori chometric Psy. McGraw-Hill, N ew York.1


Jumat, 14 Juni 2013

Metode Pembelajaran KUASAI (ACCELERATED LEARNING)

Kehidupan masyarakat yang cenderung bersifat terbuka saat ini memberi kemungkinan munculnya berbagai pilihan bagi seseorang dalam menata dan merancang kehidupan masa depannya yang lebih baik. Keadaan ini juga memunculkan persaingan yang cukup tajam, dan sekaligus menjadi ajang seleksi alam yang kompetitif.
Sejalan dengan itu, dalam bidang pendidikan, paradigma belajar sepanjang hayat semakin mengemuka dan menjadi penting; diyakini tanpa belajar manusia akan tertinggal. Ketika dunia berubah sangat cepat, adalah penting untuk mengikuti laju perubahan dunia yang demikian. Hal ini berarti kecepatan perubahan laju dunia menuntut kemampuan belajar yang lebih cepat. Kompleksitas dunia yang terus meningkat juga menuntut kemampuan yang setara untuk menganalisis setiap situasi secara logis, sehingga mampu memecahkan masalah secara kreatif. Untuk menguasai perubahan yang berlangsung cepat dibutuhkan pula cara belajar cepat, dan kemampuan menyerap serta memahami informasi baru dengan cepat pula. Konsep belajar dan pembelajaran nampaknya harus pula berubah. Pada saat laju perubahan ibarat prahara yang selalu menantang, pengajaran dan cara belajar tradisional sulit dipertahankan. 
Pasti kita pernah dengar program akselerasi dan apa sih akselerasi itu, suatu program pelajaran untuk mempercepat anak yang mempunyai daya tangkap yang lebih dalam belajar. Program ini kemudian mendapat respon yang positif bagi orang tua yang mengiginkan anaknya lebih cepat pintar. Tetapi belakangan mendapat dampak yang sedikit mengkhawatirkan.
Program akselerasi pelajaran adalah percepatan pelajaran bagi peserta didik yang cerdas. Yang melampaui usianya. Misalnya seharusnya seorang peserta didik mendapatkan pelajaran di usia yang lebih tua tetapi dengan kecerdasannya yang melalui ujian tertentu dan proses pendidikan akselerasi dianggap mampu menyelesaikan pelajaran yang harusnya diberikan pada anak beberapa tahun lebih tua dari padanya. Contohnya anak kelas tiga SD setelah melalui program akselerasi anak tersebut mungkin memenuhi syarat untuk diberikan pelajaran kelas lima atau kelas enam SD. Menurut para Ahli (Hawadi, Reni Akbar, DR—2004.)

Konsep Dasar Belajar Akselerasi
Konsep cara belajar cepat diawali oleh pandangan Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl tentang adanya beberapa hal yang menjadi karakteristik tahun-tahun terakhir yang penuh pancaroba dari millenium II yang baru lalu. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus dijawab oleh setiap orang tua, pendidik, pelaku bisnis dan pemerintahan. Keberhasilan pada abad mendatang akan bergantung pada sejauh mana seseorang dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan yang tepat untuk menguasai kecepatan, kompleksitas, dan ketidakpastian yang saling berhubungan satu sama lain. Perubahan dunia yang begitu cepat menuntut kemampuan belajar yang lebih cepat. Kompleksitas dunia yang terus meningkat menuntut kemampuan yang sesuai untuk menganalisis setiap situasi secara logis dan memecahkan masalah secara kreatif. Prioritas utama bagi lembaga pendidikan adalah mengajarkan kepada anak-anak bagaimana cara belajar dan bagaimana cara berpikir. Hanya dengan dua ketrampilan super inilah seseorang dapat mengatasi perubahan dan kompleksitas serta menjadi manusia yang secara ekonomi tidak bergantung dan tidak akan menganggur pada abad ini. Kedua keterampilan tersebut akan menghasilkan kemandirian dan kepercayaan diri. Kemandirian merupakan kemampuan untuk mengelola cara belajar sejak dini, untuk menguasai informasi, dan untuk mengetahui bagaimana menggunakan informasi tersebut guna menghasilkan produk-produk dan jawaban-jawaban kreatif terhadap berbagai masalah. Semua hal tersebut berimplikasi pada kebutuhan mendesak akan keharusan melakukan suatu perubahan, baik dalam apa yang dipelajari dan bagaimana ia mempelajari. Belajar menjadi sangat penting karena ketika seseorang mempelajari methode belajar yang baik, maka kepercayaan dan keyakinan dirinya akan meningkat. Ketika seseorang mempelajari methode belajar yang baik, maka akan memperoleh kemampuan dasar untuk menjadi pembelajar (student) yang mampu mengatur diri, dan kemampuan dasar untuk meningkatkan pengembangan pribadi. Selain itu juga akan memiliki kekuatan untuk berubah dari konsumen pendidikan yang pasif menjadi pengelola pembelajaran dan kehidupan yang aktif bagi diri sendiri. 
Menurut Colin dan Malcolm, belajar bukan hanya untuk mengetahui jawaban-jawaban, juga bukan sekedar untuk mengetahui penggalan dari suatu batang tubuh pengetahuan. Belajar juga tidak hanya diukur dengan indeks prestasi dan nilai ujian saja. Akan tetapi belajar adalah petualangan seumur hidup, perjalanan eksplorasi tanpa akhir untuk menciptakan pemahaman personal. Petualangan tersebut haruslah melibatkan kemampuan untuk secara terus menerus menganalisis dan meningkat cara belajar, serta kemampuan menyadari proses belajar dan berpikir diri sendiri. Belajar haruslah dimulai sedini mungkin dan terus berlangsung seumur hidupnya, serta mengimplementasikan apa yang dipelajari. 
Seseorang akan menemukan bahwa belajar itu mudah dan menyenangkan ketika orang tersebut mampu menggunakan bentuk-bentuk kecerdasannya yang paling kuat. Hal tersebut disebabkan karena sebagian orang mungkin kurang mampu dalam suatu jenis kecerdasan. Akan tetapi karena gabungan dan paduan khusus keterampilan yang dimilikinya, dia mungkin mampu mengisi dengan baik beberapa kekurangannya secara baik.Tapi umumnya semakin baik seseorang mengembangkan kecerdasannya yang lain, maka akan semakin luwes orang tersebut memenuhi tantangan dalam kehidupan yang luas aspeknya. 
Metode belajar dalam Accelerated Learning mengakui bahwa masing-masing individu memiliki cara belajar pribadi pilihan yang sesuai dengan karakter dirinya. Oleh karena itu, ketika seseorang belajar dengan menggunakan teknik-teknik yang sesuai dengan gaya belajar pribadinya, maka berarti ia telah belajar dengan cara yang paling alamiah bagi diri sendiri. Sebab, yang alamiah menjadi lebih mudah, dan yang lebih mudah menjadi lebih cepat, itulah alasan Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl menyebutnya cara belajar cepat. 
Dan ketika para guru bekerja dalam urutan langkah-langkah tersebut, maka mereka akan merasakan bahwa itu menyenangkan, efektif, dan cepat. 
Kecerdasan hanyalah sehimpunan kemampuan dan ketrampilan. Seseorang dapat mengembangkan dan meningkatkan kecerdasannya dengan belajar menggunakan kemampuannya sendiri secara penuh. Strategi Cara Belajar Cepat akan memberikan “sarana usaha” untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan ini. Dan berikut ini penulis akan memaparkan lebih jauh beberapa strategi cara belajar cepat.

Ulasan Akselerasi
Belajar merupakan suatu proses internalisasi pengetahuan dalam diri individu. Aktivitas belajar akan berlangsung efektif apabila seseorang yang belajar berada dalam keadaan positif dan bebas dari tertekan (presure). Selama ini proses belajar yang berlangsung di sekolah maupun program-program pelatihan yang diselenggarakan cenderung berlangsung dalam suasana yang monoton dan membosankan.
Dalam kondisi ini guru hanya menuangkan ilmu pengetahuan kedalam kepala siswa yang berlaku pasif yang dikenal dengan istilah “pour and snoor”. Materi yang diajarkan hanya diceramahkan tanpa ada upaya untuk melibatkan potensi siswa untuk berfikir dan memberi respon terhadap pengetahuan yang ditransfer. Kadang–kadang aktivitas belajar disertai dengan ancaman yang membuat siswa cenderung mencari selamat. Aktivas belajar seperti ini, jelas tidak akan membuat pembelajar (learner) dapat menciptakan pengetahuan secara optimal.
Agar dapat mengatasi permasalahan tersebut banyak perubahan mendasar yang perlu dilakukan agar dapat membantu siswa mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi kompentesi aktual. Perubahan mendasar yang perlu dilakukan mencakup penggunaan strategi dan metode pembalajaran yang dapat menjadikan proses belajar bukan lagi sebuah proses yang menakutkan tapi menjadi sebuah proses yang menyenangkan (fun) dan dapat membuat seseorang berkreasi dengan pengetahuan yang dipelajarinya.
Accelerated Learning sebagai cara untuk menciptakan aktivitas belajar menjadi sebuah proses yang menyenangkan. Accelerated Learning merupakan pendekatan belajar yang lebih maju dari pada yang digunakan saat ini. Implementasi Accelerated Learning pada proses belajar di sekolah dapat memberikan beberapa keuntungan. Accelerated Learning didasarkan riset terakhir tentang perkembangan otak dan belajar. Saat ini Accelerated Learning digunakan dengan memanfaatkan metode dan media yang bervariasi dan bersifat terbuka serta fleksibel.

Bentuk Penyelenggaran
1. Program khusus, siswa yang memiliki kecerdasan luar biasa bersama dengan siswa bekemampuan biasa.
2. Kelas khusus, siswa yang memiliki kemampuan luar biasa ditempatkan pada kelas khusus.
3. Sekolah khusus, siswa yang belajar di sekolah ini adalah mereka yang hanya memiliki kemampuan dan kecerdasan yang luar biasa
Ada banyak hal yang turut mendukung berhasil-tidaknya program ini. Yakni sarana dan prasarana termasuk di dalamnya guru dan buku. Pada kelas ini guru harus memiliki kualifikasi dan kemampuan khusus, berkualitas, berpengalaman, mendapat pelatihan dan selalu siap agar dapat menyesuaikan diri dengan siswanya.

Strategi Akselerasi
Strategi cara belajar cepat dalam Accelerated Learning merupakan paduan dari metode-metode yang dibagi menjadi enam langkah dasar yang dapat dingat dengan mudah dengan menggunakan singkatan M – A – S – T – E – R. Kata ini diciptakan oleh pelatih terkemuka Cara Belajar Cepat (CBC) Jayne Nicholl. Adapun pengertian dari M-A-S-T-E-R menurut Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl adalah sebagai berikut:
  1. M adalah Motivating Your Mind (Memotivasi Pikiran) Dalam memotivasi pikiran maka seseorang harus berada dalam keadaan pikiran yang “kaya akal”, Itu  berarti harus dalam keadaan relaks, percaya diri dan termotivasi. 
  2. A adalah Aquiring The Information (Memperoleh Informasi) Dalam belajar seseorang perlu mengambil, memperoleh dan menyerap fakta-fakta dasar subyek palajarran yang dipelajari melalui cara yang paling sesuai dengan pembelajaran inderawi yang disukai.
  3. S adalah Searching Out the Meaning (Menyelidiki Makna) Mengubah fakta ke dalam makna adalah unsur pokok dalam proses belajar. Menanamkan informasi pada memori mengharuskan seseorang untuk menyelidiki makna seutuhnya secara seksama dengan mengeksplorasi bahan subyek yang bersangkutan.
  4. T adalah Triggering the Memory (Memicu Memori) Memori menjadi bersifat menetap atau semestara, sangat tergantung pada bagaimana kekuatan informasi “didaftarkan” untuk pertama kalinya pada otak. Itulah sebabnya mengapa sangat penting untuk belajar dengan cara melibatkan indra pendengaran, penglihatan, berbicara dan bekerja, serta yang melibatkan emosi-emosi positif. Semua faktor tersebut membuat memori menjadi kuat. 
  5. E adalah Exhibiting What You Know (Memamerkan Apa Yang Anda Ketahui) Untuk mengetahui bahwa seseorang telah paham dengan apa yang dipelajarinya bisa dilakukan dengan beberapa teknik. Pertama, dengan menguji diri sendiri. Buktikan bahwa dia memang betul-betul telah mengetahui suatu subyek dengan pengetahuan yang mendalam, bukan hanya luarnya saja. Kedua, mempraktikkan apa yang dipelajari kepada teman atau sahabat.
  6. R adalah Reflecting How You’ve Learned (Merefleksikan Bagaimana Anda Belajar) Seseorang perlu merefleksikan pengalaman belajarnya, bukan hanya pada apa yang telah dipelajari, tetapi juga pada bagaimana mempelajarinya. Dalam langkah ini seseorang meneliti dan menguji cara belajarnya sendiri. Kemudian menyimpulkan teknik-teknik dan ide-ide yang terbaik untuk diri sendiri. Mengkaji dan merenungkan kembali pengalaman belajar dapat membantu mengubah karang penghalang yang keras menjadi batu pijakan untuk melompat ke depan. Sekali bisa mempelajari kombinasi personal kecerdasan dan cara belajar yang disukai, maka potensi belajar akan terbuka lebar-lebar. Pemantuan diri, evaluasi diri dan introspeksi terus-menerus adalah karakteristik kunci yang harus dimiliki pembelajar yang punya motivasi diri.
Implementasi Accelerated
Implentasi Accelerated Learning dalam aktivitas belajar dan pelatihan memerlukan adanya perubahan yang bersifat sistemik dan holistik. Perubahan secara mendasar perlu dilakukan karena kondisi pendidikan saat ini sudah sangat bersifat mekanistik yang disebabkan oleh terlalu lamanya pendekatan behavioristik digunakan. Pendekatan behavioristik telah meracuni proses pendidikan selama ini karena hanya merupakan pabrik yang menghasilkan robot-robot yang dibutuhkan oleh dunia kerja.

Adapun persiapan dalam implementasi Accelerated Learning adalah sebagai berikut :
  •  Get learners out of a passive or resistant mental state (Menyiapkan mental siswa menjadi aktif).
  •  Remove learning barriers (Menghapus hambatan-hambatan dalam belajar).
  •  Arouse learners’ interest and curiosity (Meningkatkan minat dan rasa ingin tahu siswa).
  •  Give learner positive learning about, and a meaningful relationship with, the subject matter (Membuat siswa berfikir prositif tentang materi pelajaran)
  •  Create active learners who inspired to think, learn, create, and grow – (Ciptakan siswa yang aktif yang dapat berfikir dan mencipta)
  •  Get people out of isolation and into a learning community – Buat siswa keluar dari isolasi dan ajaklah mereka melihat masyarakat disekitar
Langkah-langkah lain Pembelajaran Akselerasi
Ada enam langkah menurut Collin Rose disingkat dengan KUASAI.
K = Kuasai pikiran untuk sukses.
U = Uraikan faktanya.
A = Apa maknanya.
S = Sentakkan ingatan.
A = Ajukan yang diketahui.
I = Instrospeksi

Manfaat Implementasi Accelerated Learning
• Ignite your creative imagination (menciptakan imajinasi kreatif siswa)
• Get learner totally involved (membuat siswa terlibat total)
• Create healthier learning environments (menciptakan lingkungan belajar yang sehat)
• Speed and enhance learning (mempercepat dan memperkaya belajar)
• Improve retention and job performance (meningkatkan daya ingat dan performa)
• Speed the design process (memepercepat proses rancangan belajar)
• Build effective learning communities (membangun masyarakat belajar yang efektif)
• Greatly improve technology-driven learning (meningkatkan penggunaan teknologi dalam pembelajaran)

Menurut Colin dan Malcolm, belajar bukan hanya untuk mengetahui jawaban-jawaban, juga bukan sekedar untuk mengetahui penggalan dari suatu batang tubuh pengetahuan. Belajar juga tidak hanya diukur dengan indeks prestasi dan nilai ujian saja. Akan tetapi belajar adalah petualangan seumur hidup, perjalanan eksplorasi tanpa akhir untuk menciptakan pemahaman personal.
Accelerated Learning sebagai cara untuk menciptakan aktivitas belajar menjadi sebuah proses yang menyenangkan. Accelerated Learning merupakan pendekatan belajar yang lebih maju dari pada yang digunakan saat ini.
Strategi cara belajar cepat dalam Accelerated Learning merupakan paduan dari metode-metode yang dibagi menjadi enam langkah dasar yang dapat dingat dengan mudah dengan menggunakan singkatan M – A – S – T – E – R. Kata ini diciptakan oleh pelatih terkemuka Cara Belajar Cepat (CBC) Jayne Nicholl. Adapun pengertian dari M-A-S-T-E-R menurut Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl.
Langkah-langkah lain Pembelajaran Akselerasi
Ada enam langkah menurut Collin Rose disingkat dengan KUASAI.
K = Kuasai pikiran untuk sukses.
U = Uraikan faktanya.
A = Apa maknanya.
S = Sentakkan ingatan.
A = Ajukan yang diketahui.
I = Instrospeksi

Model Pembelajaran MID

Ausubel (dalam Pramudiani, 2007: 19) menyatakan: “Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang”. Untuk membuat matematika menjadi bermakna dan bermanfaat bagi siswa, maka diperlukan sebuah landasan untuk membangun kembali semua aspek pembelajaran matematika, seperti: bahan-bahan kurikulum, lingkungan atau tempat pembelajaran, tanggung jawab guru, dan metode untuk menilai pemahaman matematika. Pernyataan tersebut di ungkapkan oleh Posamentier dan Stepelman (dalam Pramudiani, 2007: 19).

Selain dari hal yang disebutkan di atas, upaya untuk membuat pembelajaran matematika menjadi bermakna adalah dengan memberikan kesempatan kepada masing-masing siswa untuk membuat bahan ajar dan mengonstruksi soal-soal sendiri, sehingga diharapkan mereka dapat belajar dari pengalaman dan dapat mengingat materi yang dipelajari dalam waktu yang sangat panjang.
Sesuatu dikatakan bermakna jika berada pada tempatnya. Hamalik (dalam Pramudiani, 1997: 20) menyatakan,
Keseluruhan memberikan makna kepada bagian-bagian, bagian-bagian terjadi dalam suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam rangka keseluruhan tersebut. Ini berarti keseluruhan yang memberikan makna terhadap suatu bagian, misalnya sebuah ban mobil hanya bermakna jika menjadi bagian dari mobil, yakni sebagai roda, sebuah papan tulis hanya bermakna jika berada dalam kelas, sebatang kayu hanya bermakna sebagai sebagai tiang bila menjadi salah satu bagian pada sebuah rumah.

Dengan kata lain pembelajaran matematika akan bermakna jika menjadi bagian dari kebutuhan siswa. Sehingga, jika pembelajaran matematika telah bermakna di mata siswa, maka diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuan komunikasi matematikanya.
Madjid (dalam Pramudiani, 2007: 21) mengemukakan bahwa model pembelajaran bermakna adalah pola (pattern) atau kerangka kerja (frame work) yang dibangun secara konseptual, memiliki karakteristik khusus, dan berpijak pada psikologikognitif-konstruktif untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan efektif. Untuk selanjutnya model pembelajaran bermakna yang dikembangkan oleh Madjid (dalam Pramudiani, 2007: 21) tersebut dinamakan The Meaningfull Instructional Design Model (The MID-Model) yang memiliki beberapa fase, hasil dari adaptasi dengan Model 4Mat system pada pembelajaran bahasa. Desain The MID-Model initerdiri atas beberapa komponen, yaitu: (1) tujuan, (2) materi / bahan ajar, (3) sumber belajar, dan (4) prosedur, yaitu: “(a) lead individu (b) Reconstruction, dan (c)Production” serta (5) Evaluasi. Secara skematik, prosedur dapat digambarkan sebagai berikut.

Desain The-MID Model
Model ini dipilih menjadi alternatif pembelajaran matematika agar pembelajaran matematika menjadi lebih menarik dan penuh makna sehingga siswa dapat merasakan manfaat mempelajari matematika dan akan lebih mudah menguasai konsep-konsep matematika karena dikaitkan dengan struktur kognitif siswa itu sendiri.
Adapun penjelasan mengenai prosedur di atas diadaptasi dari Madjid (dalam Pramudiani, 2007: 22), sebagai berikut.
a. Lead In
Secara umum konsep Lead In sama dengan Concrete Experience dalam arti keduanya mencoba mengaitkan skemata siswa pada awal pembelajaran dengan konsep-konsep, fakta, dan atau informasi yang akan dipelajari. Kegiatan itu dilakukan guru melalui: (1) penciptaan situasi dalam bentuk kegiatan yang terkait dengan pengalaman siap siswa; (2) pertanyaan atau tugas-tugas agar siswa merefleksi dan menganalisis pengalaman-pengalaman masa tertentu masa lalu, dan; (3) pertanyaan perihal konsep-konsep, ide dan informasi tertentu walaupun hal-hal tersebut belum diketahui oleh siswa.

b. Reconstruction
Reconstruction adalah sebuah fase yang di dalamnya guru memfasilitasi dan memediasi pengalaman belajar yang relevan, misalnya dengan menyajikan input berupa konsep atau informasi melalui kegiatan menyimak dan membaca teks untuk dielaborasi, didiskusikan, dan kemudian disimpulkan oleh siswa. Kegiatan dilakukan melalui pemberian pertanyaan atau tugas-tugas yang mengarahkan siswa mencari, menemukan konsep atau fakta (observation and reflection), kemudian membangun hipotesis sementara (hypothesizing), (atau formation of abstract concept) tentang konsep atau informasi tertentu, dan menarik kesimpulan. Melalui refleksi/ review terdapat ruang bagi siswa menyadari perolehan baru dibandingkan dengan pengetahuan sebelum pembelajaran. Dalam fase ini belajar tidak hanya diarahkan pada pengembanganmetacognitive strategy. Hal itu dimungkinkan karena strategi metakognitif sangat mungkin muncul dari pengalaman siswa mengerjakan tugas-tugas yang dimediasi guru dalam berbagai cara.

c. Production
Production adalah fase terakhir dari model yang dikembangkan. Kontrol kegiatan lebih bertumpu pada siswa untuk mengekspresikan diri sendiri melalui tugas-tugas komunikatif yang bertujuan, jelas, dan terarah. Pada fase ini terdapat mediasi guru yang lebih terstruktur pada model yang dikembangkan.

Yang menjadi ciri model pembelajaran bermakna (The-MID Model), yaitu: 
(1) menggunakan pengalaman dan pengetahuan awal siswa untuk menerima informasi, memproses, dan menyimpan informasi sehingga untuk dipanggil kembali (retrieval) bilamana dibutuhkan, dan 
(2) mempertimbangkan materi, kompleksitas tugas-tugas yang berhubungan dengan matematika yang melekat pada kebutuhan, minat, dan perkembangan kognitif siswa. 
Dalam bentuk ”draft awal” implementasi dikemukakan sebagai berikut.
a. Draw on experience and knowledge- guru melibatkan siswa dalam kegiatan yang memanfaatkan pengalaman nyata dan pengetahuan yang terkait dengan pengalaman dan pengetahuan baru yang diperoleh pada kegiatan inti (fase input).
b. Input Stage- penyajian input baru melalui aktivitas yang berfokus pada siswa, eksplorasi dan diskusi dengan tugas-tugas terbimbing menyimak, membaca pemahaman melalui fasilitas dan mediasi guru.
c. Reinforcement Stage- siswa mengerjakan tugas yang bersifat replikasi relative berkenaan dengan tema dan kompleksitas tugas dari tugas sebelumnya pada faseinput; dan
d. Application Stage- siswa menerapkan pengetahuan, informasi, dan atau keterampilan baru dalam memecahkan persoalan-persoalan pedagogik atau autentik melalui tugas-tugas berbicara dan menulis dalam kontrol siswa dan guru.


Desain The-MID model ini secara keseluruhan dapat digambarkan sebagai berikut:

The-MID Model

Desain
1. Tujuan Pembelajaran
· Peningkatan kemampuan siswa dalam komunikasi matematik, aktivitas serta sikap positif siswa terhadap pembelajaran matematika.
2. Materi Pembelajaran
· Terkait dengan kehidupan nyata dan bermakna bagi siswa.
3. Sumber/ Media Belajar
· Buku, lingkungan sosial siswa, dan multimedia (macromedia flash).
4. Prosedur Pembelajaran
· Langkah-langkah pembelajaran terdiri dari:
a. Fase Lade Individu
Merefleksi pengalaman masa lalu sebagai bahan asosiasi.
b. Fase Reconstruction
Menerima input informasi dan konsep matematika.
Mengembangkan pemahaman baru melalui proses asimilasi dan akomodasi.
c. Fase Production
Menguji coba informasi dan konsep matematika ke dalam kegiatan komunikatif.
5. Evaluasi
Evaluasi kemampuan komunikasi matematik, aktivitas, dan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika.

Implementasi
1. Tahap Draw on Experience and Knowledge
Mengemukakan pengalaman dan pengetahuan siap sebagai bahan asosiasi.
2. Tahap Input
· Menerima input informasi dan konsep-konsep matematika.
· Melakukan eksplorasi melalui tugas penyelesaian masalah matematika.
3. Tahap Generalization and Review
· Mengembangkan pemahaman baru melalui proses asimilasi dan akomodasi.
· Mereview pengetahuan sebelumnya melalui mediasi guru
4. Tahap Application
Menerapkan informasi dan konsep-konsep matematika yang baru diperoleh ke dalam kegiatan komunikatif, yaitu berdiskusi, presentasi dan masing-masing kelompok saling menanggapi permasalahan yang sedang dipelajari.

Evaluasi
1. Tujuan Evaluasi
· Mengukur kemampuan komunikasi matematik, aktivitas dan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika.
· Sebagai dasar perbaikan efektivitas pembelajaran.
2. Sasaran Evaluasi
· kemampuan komunikasi matematik, aktivitas dan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika.
3. Prosedur Evaluasi
· Evaluasi prosaes dilakukan ketika berlangsung pembelajaran.
· Evaluasi hasil belajar dilakukan pada akhir sebuah segmen pembelajaran.
4. Alat/ Teknik Evaluasi
· Format penilaian proses dan tes hasil belajar.
· Penilaian dilakukan secara holistic.

Adaptasi dari Madjid (dalam Pramudiani, 2007: 26)

Dari uraian beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi matematik erat kaitannya dengan pengembangan model pembelajaran bermakna. Dengan mengemas pembelajaran menjadi penuh makna, maka akan melatih struktur kognitif siswa, sehingga kemampuan komunikasi matematik pun dapat terbentuk. Di samping itu, pembelajaran bermakna tidak hanya dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematik saja, tetapi juga dapat melatih kemampuan komunikasi siswa itu sendiri, baik komunikasi antar sisw, guru, maupun komunikasi dengan lingkungannya.