“Apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat, saya ingat; dan apa yang saya lakukan saya paham” (Confusius)

Sabtu, 08 Desember 2012

Kurikulum 2013 : Pendidikan Agama ditambah untuk perkuat karakter anak


JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan agama, terutama di jenjang SD dan SMP pada kurikulum 2013 bakal ditambah. Penambahan jam pelajaran agama ini sebagai upaya untuk memperkuat pendidikan karakter siswa di sekolah.
Yanti Sriyulianti, praktisi pendidikan dari Keluarga Peduli Pendidikan (Kerlip), Rabu (5/12/2012), di Jakarta, mengatakan, pada pemikiran tentang perlunya perubahan kurikulum 2013, permasalahan soal lemahnya karakter generasi muda bangsa yang dibentuk lewat pendidikan di sekolah, menjadi salah satu sasaran penting yang harus tercapai pada pendidikan di sekolah ke depannya.
Menurut Yanti, pendidikan agama yang tidak sekadar teori atau pengetahuan, diyakini mampu membekali siswa untuk menjadi insan berakhlak mulia.
Pada kurikulum saat ini, ungkap Yanti, pendidikan agama dijalankan di kelas empat dan enam SD selama tiga jam per minggu. Pada kurikulum 2013, ada usulan  penambahan jam pelajaran agama yakni mulai kelas satu hingga kelas enam selama empat jam per minggu, atau penambahan dikelas rendah.
Di jenjang SMP, penambahan jam mata pelajaran pendidikan agama dari dua jam menjadi tiga jam. Adapun di jenjang pendidikan menengah tetap dua jam per minggu.
Yanti mengungkapkan, pada uji publik Pengembangan Kurikulum 2013 di Jakarta, persoalan pendidikan agama sempat disorot. Ada perbedaan pendapat di antara peserta uji publik yang tetap menginginkan pendidikan agama tidak usah ditambah.
Di lain pihak, lanjut Yanti, ada kelompok yang justru menilai penambahan jam mata pelajaran pendidikan agama dalam kurikulum 2013, dirasakan masih kurang untuk mendukung pendidikan karakter yang semakin kuat di sekolah.  
Yanti mengatakan, pendidikan agama, terutama untuk sekolah umum, seharusnya lebih banyak ditekankan pada praktek nilai-nilai universal. "Pendidikan agama lebih baik menjadi tanggung jawab orangtua atau keluarga, khususnya untuk yang bukan sekolah keagamaan," ujar Yanti.
Menurut Yanti, pendidikan agama di sekolah jangan difokuskan pada perbedaan agama satu dengan yang lain. Justru yang lebih penting yakni ditekankan, pada nilai-nilai universal agama yang cinta kebenaran, keadilan sosial, kesetaraan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, tanggung jawab, bahkan saat tidak ada orang lain melihat.
HAR Tilaar, Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta, menambahkan, misi dalam perubahan kurikulum harus mengutamakan kepentingan terbaik anak. Selain itu, pendidikan ditujukan untuk memperkuat persatuan bangsa, dengan menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
Indonesia sebagai negara multikultural, kata Tilaar, harus mampu membekali setiap warga negara dengan kemampuan untuk hidup dalam perbedaan dengan memperkuat toleransi. Dalam perkembangan globalisasi, dunia ini tidak semata menuju persaingan, tetapi tiap orang dan bangsa harus mampu berkolaborasi dengan siapa pun.
Secara terpisah, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk organisasi PBB Bidang Pendidikan, Sains, dan Budaya (UNESCO), Arief Rachman,  mengatakan, siswa harus dididik hidup bersama dalam damai. Sebab, konflik yang timbul di masyarakat dapat bermula dari adanya perbedaan suku, budaya, dan agama, yang memang menjadi keseharian masyarakat Indonesia.
"Pendidikan untuk hidup bersama dan damai merupakan salah satu agenda penting UNESCO. Untuk mengembangkan konsep ini, perlu disipakan dengan baik di dalam materi pelajaran yang ada di sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, maupun para gurunya," kata Arief.
Menurut Arief, pendidikan dengan perubahan kurikulum baru tetap intinya bagaimana menjadikan warga negara yang baik, termasuk hidup dalam damai meskipun ada perbedaan. Isu-isu keberagaman ini perlu terus dibangun, utamanya dengan menyiapkan guru yang mampu mengkomunikasikannya dengan baik.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, meyakinkan, perubahan kurikulum ini sebagai kebutuhan untuk menyiapkan generasi muda bangsa yang mampu membawa bangsa menjadi bangsa yang cerdas dan bermartabat.
"Perbaikan pendidikan nasional yang selama ini dikeluhkan mengabaikan pendidikan nilai atau karakter, diakomodasi dengan perubahan-perubahan dalam kompetensi yang mesti dimiliki siswa," kata Nuh.
*** tapi tidak untuk ditakut-takuti khan Pak Menteri ? alih-alih ilmu agama tapi malah jadi Fanatisme yang kebablasan****
Poskan Komentar